Tergerus Arus Modern, THR Terlupakan

actasurya.com – Tak banyak yang tahu, dibalik kemegahan gedung Hi Tech Mall, pusat pertokoan gadget modern di Surabaya, ada sebuah perkampungan seni. Mereka menyebutnya Taman Hiburan Rakyat (THR). Komplek taman yang didirikan pada 19 Mei 1961 ini merupakan saksi bisu kejayaan kesenian asli Surabaya: Ludruk.

Terletak di jalan Kusuma Bangsa nomer 110. Sebenarnya tempat ini cukup strategis dengan akses yang mudah dari jalan raya. Namun karena letaknya yang tertutupi oleh gedung Hi Tech Mall, banyak masyarakat yang mengaku tak tahu dengan keberadaan taman hiburan ini. Hal tersebut sangat disayangkan karena THR dulunya merupakan satu-satunya taman hiburan yang ada di Surabaya.

Tempat yang dibangun oleh Kolonel laut RS Hadiwinarso ini pernah berjaya pada tahun 1990-an. Pembangunannya sendiri berlatar belakang dari tidak adanya tempat hiburan yang merakyat di kota Surabaya.

THR adalah wadah bagi para seniman-seniman tradisional untuk mengekspresikan karya mereka. Sayangnya, tempat itu hampir terlupakan oleh masyarakat, khususnya generasi muda yang sudah tergerus oleh arus modern budaya barat.

Akses masuk ke THR yang melewati samping gedung Hi Tech Mall terlihat sangat sepi. Suasana gelap dengan pencahayaan ala kadarnya semakin menambah kesan bahwa tempat itu sudah tak terpakai lagi. Bahkan siapapun yang pertama melintasinya akan bertanya-tanya, apakah benar ini adalah tempat wisata?

Orang mungkin tak akan percaya bisa mendapatkan hiburan di tempat se sunyi ini. Padahal jika kita masuk, didalamnya ada kesenian rakyat yang masih hidup, meskipun dengan nafas yang terengah-engah.

Kondisi di dalam komplek taman yang ada di bawah naungan UPTD THR Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ini terkesan terbengkalai dan kurang terawat. Di beberapa sudut terdapat infrastuktur yang sudah rusak. Ada juga beberapa gedung yang catnya sudah terkelupas, bahkan banyak temboknya yang bolong-bolong. Hal-hal inilah yang bisa jadi penyebab menipisnya jumlah pengunjung di THR.

Untuk menghidupkan denyut kesenian di THR, selama ini pemerintah memberikan subsidi yang digunakan untuk mendatangkan kelompok-kelompok kesenian daerah. Biasanya pentas diselenggarakan 3x dalam semingggu, jadwalnya pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu saja.

Pementasan seni yang ditampilkan bermacam-macam, seperti Jaranan, Ludruk, Ketoprak, Wayang Orang bahkan Campursari. Di THR juga tersedia beberapa tempat yang biasanya digunakan untuk melakukan pementasan.

Ada pendopo, gedung pringgodani, panggung terbuka,  bahkan ada sebuah panggung besar yang berada di tengah danau. Tapi sekali lagi, tempat-tempat itu tak ubahnya hanya menjadi sebuah tempat yang jauh dari kata nyaman. Danau buatan yang konon dulunya sangat indah, sekarang hanya menjadi wadah bagi air keruh.

BACA JUGA   Perjalanan Sekali Tepuk Dua Nyamuk

Tak ketinggalan, terdapat 78 stan yang menjajakan makanan ataupun produk unggulan kota Surabaya. Namun kini banyak stan-stan yang sudah tutup, bahkan beralih fungsi menjadi tempat tinggal penduduk.

Kebanyakan stan-stan ini hanya buka pada siang hari, begitu juga dengan pembelinya yang merupakan limpahan dari karyawan atau pengunjung Hi Tech Mall. Bahkan, pada malam saat digelarnya pementasan, hanya tersisa satu dua stan saja yang masih terjaga.

Indah misalnya, pedagang yang menempati stan makanan di THR mengaku tak pernah berjualan pada malam hari. Hal ini dikarenakan kondisi THR yang sangat sepi pengunjung.

Indah yang sehari-hari tinggal di komplek THR ini bercerita bahwa kondisi THR yang sekarang sangat jauh berbeda dari yang dulu. Banyak masyarakat khususnya anak muda yang kurang mengenal seni-seni tradisional asli Jawa Timur khususnya Surabaya.

Meskipun eksistensi THR yang sekarang sudah mulai meredup, namun tetap saja nama THR masih bersinar terang dihati para penggemarnya, khususnya penggemar kesenian tradisional khas Surabaya.

Dengan ditemani sebatang rokok, beberapa lelaki paruh baya terlihat duduk di kursi hijau tua yang telah disediakan. Mereka sedang menunggu pertunjukkan dimulai. Hampir setiap ada pementasan mereka selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kampung kesenian yang umurnya setali tiga uang dengan umur mereka.

“Saya ini penggemar seni wayang orang. Kalau tampil menyenangkan gitu di hati. Baik tata bahasanya, gayanya, penampilannya,” tutur Frankito Arif, salah satu pengunjung.

Meskipun ia berasal dari Kalimantan, ia mengaku tidak sedikitpun mengalami kesulitan memahami bahasa Jawa krama inggil yang biasanya digunakan dalam pertunjukan wayang orang. Justru ia sangat menikmati dan menyukai kesenian ini. Oleh karena itu, pria yang juga berprofesi sebagai wartawan senior ini tak pernah melewatkan pertunjukan yang diadakan di THR.

Ia juga berharap adanya campur tangan dari Pemerintah untuk menghidupkan lagi tempat ini. Karena Pemerintah juga memiliki andil yang sangat besar untuk mengelola tempat yang dulu pernah berjaya di era 90-an

. “Bukan hanya memberikan subsidi saja, tapi bagaimana kesenian tradisional Surabaya bisa dicintai oleh generasi muda.” tambahnya. (N/F : Hilda,Abang/Google)