Sekelebat Cerita Masa Lampau Oleh Teater Lingkar

actasurya.com – Suasana kental sastra menyelimuti warung nasionalis Mbah Cokro dalam acara peluncuran buku karya Syarif Wadja Bae yang berjudul “Sepanjang Kayuh”. Beberapa pegiat sastra dan komunitas turut menghadiri acara yang diadakan pada Jumat (17/02). Dalam event yang dihadiri sebagian besar mahasiswa maupun alumni Stikosa – AWS (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Almamater Wartawan Surabaya) ini, Teater Lingkar tak ketinggalan memberikan suguhan hangat pada para pengunjung.

Teater lingkar, organisasi Stikosa – AWS yang berkutat pada kesenian ini membawakan cerita masa kecil Syarif ketika membaca puisi berjudul “Rindu Melati” yang ditampilkan oleh salah satu anggotanya, M Iqbal Jazuli. Dengan berdiri di antara bangku pengunjung serta sebatang rokok yang menyelip diantara dua jarinya, pemuda bergaya rambut kribo itu menampilkan cerita tersebut dengan penuh semangat sembari gemetaran karena nerveous.

Cerita yang dibawakan oleh Iqbal adalah sepenggal cerita karya Syarif WB saat pertama kali menulis puisi. Dikisahkan bahwasanya ketika Syarif masih duduk di sekolah dasar, ibunya selalu meletakkan bunga melati ditumpukan baju dalam lemari. Meskipun tidak tahu awalnya kenapa sang ibu terus melakukannya, lambat laun Syarif mengerti bahwa ibunya ingin mengajarkan sesuatu pada Syarif kecil.

“Soalnya waktu dulu kan pewangi parfum hanya bisa dibeli sama orang-orang kalangan atas. Mungkin sang ibu sebenarnya juga bisa membeli, tetapi dia ingin mengajarkan pada anaknya suatu kesederhanaan,” ujar Iqbal yang akrab disapa Corong. Dirinya mengaku sangat nerveous. Sejak awal dia mengambil satu kelopak bunga diatas tanah, tangan dan kakinya sedikit gemetar. Meskipun demikian, Iqbal sangat fasih melafalkan puisi “Rindu Melati” tersebut. Pembacaan itu ditambah dengan iring-iringan petikan gitar yang membuat penonton tidak memalingkan pandangan dari penampilan ini.

Tepuk tangan meriah para penonton menyambut saat Iqbal mengakhiri ceritanya. “Lumayan bagus sih, saya jadi ingat ibu saya. Gimana waktu saya dibesarkan sampai sekarang ini,” ungkap Andhi Prasetyo, salah satu pengunjung yang datang di acara tersebut. Tak hanya Andhi, bahkan sempat ada salah satu pengunjung yang hampir menitikkan air mata saat mendengarkan cerita tersebut. “Udah suasananya dingin, terus sama dengerin cerita itu kan jadi baper aku-nya,” ucap Silvy Ningtyas, wanita 19 tahun yang juga merupakan salah satu pengunjung. (N/F: Dewid)