Perubahan Struktural Demi Terciptanya Harmonisasi Finansial

Actasurya.com – Sejak dilantik sebagai Penanggung Jawab Sementara (PJS) Stikosa-AWS pada 1 Juli 2021, Ratna Amina terhitung telah menjabat selama tiga bulan sampai sekarang. Akan tetapi, perubahan secara kasat mata mulai bermunculan. Dimulai dari digantinya beberapa kepala divisi, pelengseran Wakil Ketua II, hingga hadirnya asesor sebagai penilai mutu suatu instansi.

Divisi DMPR

Salah satunya seperti yang terjadi dikursi Divisi Komunikasi (Divkom) yang sekarang dimerger dengan Direktorat Marketing & Public Relation (DMPR). Semula DMPR dikepalai oleh Anita Agustina, namun kini diduduki dengan Mohammad Arkansyah. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh wanita berhijab ini.

“Benar, saya pernah menjabat sebagai koordinator DMPR. Tetapi sebelum digantikan oleh yang baru(Arka),” ujar Anita.

Lebih lanjut saat ditemui oleh Reporter Acta Surya, Arka sapaan akrabnya membenarkan bahwa dirinya sekarang menjabat sebagai Koordinator DMPR. Tak hanya itu Arka mengungkapkan bahwa pengangkatan tersebut sudah satu bulan yang lalu, yakni tepatnya pada Agustus 2021.

“Saya sendiri sebagai koordinator DMPR nya, bahkan sudah menjabat sejak satu bulan yang lalu (Agustus),” ungkapnya.

Disisi lain, Arka juga menjadi kepala Laboratorium diantaranya Laboratorium TV, Radio, Public relation, Bahasa dan Multimedia. Pria berkacamata ini mengatakan bahwa amanah tersebut telah ia emban sejak Prida menjadi ketua Stikosa-AWS.

“Saya sudah menjabat sebagai kepala laboratorium sejak Bu Prida,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai perangkapan jabatan pria lulusan Universitas Trunojoyo Madura ini, menelaah keputusan dari PJS Ratna Amina. Menurut pandangan Arka, ada dua faktor yang melatar belakangi. Diantaranya indikasi berupa kekurangan sumber daya manusia (SDM), dan perampingan biaya jika melihat kondisi keuangan Stikosa-AWS sekarang.

“Yang pertama yaitu kemungkinan ada kekurangan SDM, perampingan biaya karena kondisi keuangan. Bukan bermaksud rakus jabatan,” tuturnya.

Pelengseran Wakil Ketua II

Mochammad Djauhari selaku Wakil Ketua II yang menjabat sejak tahun 2019 hingga 2021 ini, membeberkan kronologi pelengseran jabatannya yang dilakukan oleh Ratna Amina. Menurut Djauhari telah ditemukan beberapa kejanggalan, yakni tidak adanya komunikasi antara Ratna Amina selaku PJS dengan Djauhari yang saat itu masih menjabat sebagai WAKA II. Ia menambahkan jika pada 27 Juli Ratna langsung memberikan surat keputusan (SK) pelengseran, yang tercantum didalamnya sejak tanggal 28 Juli 2021.

“Saya tidak tahu jika itu menyangkut masalah perasaan, saya menerima saja. Hanya caranya saja menurunkan orang yang tidak ada pemberitahuan. Langsung dipanggil, diberi surat pemutusan jabatan, mulai besok, SK pada tanggal 28 Juli,” bebernya

Walaupun Djauhari sudah berupaya untuk mengklarifikasi kepada Ratna, soal sebab adanya SK pelengseran WAKA II. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil, Ratna enggan memberikan alasan penurunan Djauhari dari kursi Wakil Ketua II.

“Saya tidak tahu mengapa saya diturunkan, sudah saya hubungi tetapi tidak menjawab kembali mengapa saya diturunkan,” ceritanya.

Tanggapan PJS Stikosa-AWS

Ratna Amina ketika ditanyai mengenai perubahan beberapa kepala divisi, khususnya Koordinator DMPR. Mencoba meluruskan bahwa bukan perombakan yang dilakukan, melainkan perbaikan diposisi tersebut. Pengangkatan Mohammad Arkansyah, yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Stikosa AWS bersama Dwi Prasetyo.

Menurut Nana sapaan akrabnya, hadirnya Arka di Stikosa-AWS ialah suatu anugrah dalam hal kemajuan soal kualitas mahasiswa. Background Arka yang broadcasting, menjadi harapan Nana untuk membawa kampus biru ini lebih progresif.

BACA JUGA   100 Hari Kerja Kepemimpinan Ketua Baru

“Kita ini sekolah tinggi sama dengan diploma. Ketika diploma, anda dituntut untuk memiliki keahlian. Yang ditanyakan dimasa depan nanti itu hasil karyamu. Maka itu yang akan kita lakukan dan rubah. Kita menjadi sekolah tinggi. Oleh karena itu, sementara yang bisa melakukan hanya Pak Arka dan Pak Dwi,” katanya.

Selain itu, Dwi Prasetyo juga diberi kepercayaan untuk memimpin Laboratorium Stikosa-AWS. Berbeda dari Arka, Dwi hanya diberi tugas menjadi teknis dalam ranah Public Relation saja. Mengingat mahasiswa yang minat jurusan Public relation sedikit, Nana berharap agar kedepannya spirit tersebut lebih ditingkatkan.

“Pak Dwi lebih ke teknis dan lebih ke Public Relation. Hanya saja mahasiswa PR masih kecil jumlahnya. Sehingga kurang tampak berkarya, Tapi kedepannya akan kita genjot lagi,” sambungnya.

Ratna juga menceritakan terkait Arka, yang diberikan jabatan sebagai Koordinator DMPR. Ia berupaya agar mahasiswa mendapatkan informasi yang kredibel dari ahlinya. Kampus pencetak wartawan ini juga, tengah berencana membuat media online, yang memuat hasil karya mahasiswanya.

“Saya tidak mau mahasiswa diberi informasi yang salah, karena semester satu itu dasar-dasar. Semester dua atau semester tiga harus turun lapangan. Mereka harus bisa membuat berita, features. Kedepannya kami punya media online sendiri. Kami mau wartawannya adalah anda semua(mahasiswa),” ujarnya.

Saat ditanyai alasan mengenai pelengseran Djauhari. Ratna Amina menjawab bahwa hal tersebut sebagai perampingan jajaran saja. Dirinya juga menambahkan bahwa kepuasan seseorang tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang. Bukan hanya itu, Wanita berkacamata ini juga menuturkan bahwa harus tanggap terhadap situasi.

“Kita hanya melakukan perampingan. Kan mahasiswa dalam dua tahun terakhir ini menurun, kita juga harus rasionalisasi belanja. Tidak ada masalah apa-apa. Jika ada yang plus dan minus namanya manusia. Puas dan tidak puas juga manusiawi,” terangnya.

“Kita tidak dapat memuaskan banyak orang, Jika situasi keuangan kita harus berhemat apakah harus menunggu situasi dalam periode jabatan(Djauhari),” imbuhnya.

Asesor untuk Stikosa-AWS

Mengenai asesor yang digandeng oleh Ratna Amina yaitu suaminya. Perempuan berhijab ini membenarkan jika dirinya mengambil jasa suaminya, hanya untuk asesor yakni membaca data sekaligus menghemat pengeluaran Stikosa-AWS. Nana juga mengatakan bahwa kampus berprodi ilmu komunikasi ini setiap tahun membayar asesor soal memprediksi akreditas intitusi.

“Setiap tahun kami(Stikosa-AWS) membayar orang untuk membaca data mengenai prediksi akreditasi universitas. Karena tidak adanya biaya dan demi biaya gratis,” ungkapnya.

Akan tetapi, ditengah perjalanan asesor tersebut sudah menyerah terlebih dahulu. Hal tersebut ditengarai, data-data Stikosa-AWS yang berantakan sehingga membuatnya pusing sebelum ke arena pertarungan. Ratna juga mengungkapkan bahwa baru dua kali menggunakan jasa suaminya tersebut.

“Kebetulan suami saya asesor. Saya minta bantuan untuk membaca data. Belum juga deal. Baru sekali atau dua kali. Tapi setelah melihat datanya, dia pusing,” tutupnya.

(N/F:Dae,Bqn)