actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»BERITA»Pameran Seni Keramik My Diary
BERITA

Pameran Seni Keramik My Diary

redaksiBy redaksi23 Januari 2010
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jenny Lee, seorang seniman keramik. Setelah sukses menggelar pameran tunggalnya ‘Saat Detik Detak’ 2004 lalu, kini ia kembali dengan memamerkan karyanya yang bertema ‘My Diary’. Dalam karyanya, ia membicarakan persoalan dan kondisi perempuan.
Wanita yang belajar seni keramik di ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta ini, memilih Galeri Seni ‘House of Sampoerna’ sebagai tempat digelarnya pameran karyanya.
Pameran yang diselenggarakan mulai 30 Desember 2009-17 Januari 2010 ini, mencoba mengangkat persoalan perempuan Indonesia dewasa yang mempunyai tanggung jawab pada keluarga, kepekaan terhadap adat dan budaya Indonesia, hingga perasaan bahagia dengan keberadaannya sebagai seorang perempuan.

Banyak yang menarik dalam pameran ini, misalnya karya yang berjudul ‘Antara Aku Dan Kau’. Sekilas sebuah ajakan bersikap acuh terhadap semua kontradiksi, antinomian, dan inkonsistensi dari kehidupan parempuan. Karya ini seperti mengajak kita untuk tidak berambisi menuntaskan semua kompleksitas tersebut, tetapi sekaligus jangan menyerah begitu saja.
Kesan yang tidak jauh berbeda kita dapatkan pada karya yang bejudul ‘Jangan Pernah Berhenti’, sebuah otobiografi yang tidak biasa. Sebuah penggambaran mengenai perjalanan seorang perempuan menempuh dunianya yang antinomian, dunia yang tidak bisa dijelaskan secara terang benderang. Wanita yang juga mengajar di Universitas Ciputra pada pameran kali ini, berusaha mempertahankan intensitas yang menjadi ciri khas seni keramik.
Icha, warga Rungkut Surabaya ketika dimintai komentarnya oleh Acta Surya mengungkapkan kekagumannya pada pameran seni keramik ini. “Saya kagum dan suka semua yang bertema tentang perempuan,” ujar mahasiswa Stikosa-AWS. (N/F: Gilang)



 

Mahasiswa Pers Surabaya
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik

14 November 2025

Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”

12 November 2025

Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital

5 Juli 2025

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.