Minoritas Di Balik Pluralitas

Indonesia begitu kaya akan etnis, di antaranya yaitu adanya kaum Kong Hu Cu. Kaum minoritas yang dulu pernah terkekang kebebasannya.

Jika sekarang kita dapat melihat meriahnya perayaan Tahun Baru Imlek, tidak sama halnya pada saat rezim orde baru. Pada tahun 1965-1998, pemerintah melarang segala hal yang berbau Tiong Hoa, termasuk perayaan Imlek. Kala itu, etnis Tiong Hoa dianggap ekslusif dan tidak mau membaur dengan warga pribumi. Bahkan agama mereka masih dianggap sebgai ajaran filsafat, etika moral, atau pandangan hidup. Karena saat itu Kong Hu Cu memang belum diakui sebagai agama resmi di Indonesia.

Masa-Masa Suram

Tiong Hoa saat itu mengalami masa-masa yang cukup sulit. Mereka mendapatkan perlakuan yang berbeda dari warga sekitarnya. Mereka mendapat kesulitan dalam memperoleh pekerjaan, pendidikan, bahkan dalam hal pernikahan. Etnis Tiong Hoa tidak memperoleh kebebasan dalam menjalani ibadah dari agama yang mereka anut, Kong Hu Cu. Mereka menjalani aktivitas ibadah secara diam-diam, dan dilarang membuat keributan. Bahkan adanya tulisan dalam huruf China di tempat umum pun dilarang keberadaannya. Hal ini pula yang menyebabkan banyaknya umat Kong Hu Cu yang berpindah agama. Diperkirakan, akibat sikap diskrimani pemerintahan orde baru, saat ini umat Kong Hu Cu hanya berjumlah 2 juta orang.

Pembuktian Eksistensi

Penderitaan dan penantian selama bertahun-tahun, akhirnya membuahkan hasil. Akhirnya pada tahun 2000, Abdurrahman Wahid yang menjabat sebagai Presiden Indonesia saat itu, mencabut Inpres Nomor 14/1967. Hal ini pun disambut dengan gembira oleh umat Kong Hu Cu. Pada klimaksnya, mereka merayakan Imlek dengan bebas untuk pertama kalinya di Indonesia. Pengakuan terhadap kaum ini pun dipertegas dengan Keppres Nomor 19/2002, yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Maka sejak tahun 2003, Imlek resmi menjadi salah satu hari libur nasional. Ini merupakan bukti nyata betapa gigih perjuangan kaum Tiong Hoa dalam memperjuangkan kesetaraannya dengan warga pribumi.

Kelenteng Jagalan

Sejak ratusan tahun yang lalu, kota-kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya, didatangi oleh komunitas Tiong Hoa. Komunitas yang terdiri dari empat suku ini, berdatangan sejak abad 14 hingga 1930-an. Mereka pun mendirikan perkampungan China yang biasa disebut Pecinan atau China Town. Komunitas ini pun membawa serta adat-istiadat, agama, serta kebudayaannya ke Indonesia. Salah satunya dengan mendirikan kelenteng, yaitu rumah peribadatan bagi umat Kong Hu Cu.

Di Surabaya sendiri, terdapat 9 kelenteng yang tersebar di berbagai lokasi. Di antaranya yaitu Klenteng Hok An Kiong (Jl. Coklat), Hong Tik Hian (Jl. Dukuh), Boen Bio (Jl. Kapasan), Pak Kik Bio (Jl. Jagalan), Sam Poo Tay Djhien (Jl. Demak), Sanggar Agung (Pantai Ria Kenjeran), Hong San Ko Tee (Jl. Cokroaminoto), Jun Cin Kiung (Jl. Ir. Anwari), dan Kelenteng Dinoyo (Jl. Dinoyo). Salah satu kelenteng yang cukup terkenal dan dikunjungi yaitu Kelenteng Pak Kik Bio. Karena letaknya di Jalan Jagalan, maka kelenteng ini juga terkenal dengan nama Kelenteng Jagalan. Kelenteng yang mulai dibangun pada 8 April 1951 ini, merupakan perluasan bisnis etnis Tiong Hoa di Pecinan. Tanah tempat kelenteng ini didirikan, pada mulanya merupakan rumah milik Gan Ban Kiem, yang kemudian dihibahkan, setelah terjadi kebakaran.

Di dalam bangunan yang sarat bernuansa merah ini, memiliki ruangan yang memiliki fungsi masing-masing. Sebelum memasuki ruangan terdapat tempat Xiang Lu (Hio), yang terletak di bawah teras kelenteng. Untuk persembahyangan, terdapat 5 buah meja persembahyangan Tian Gong, yang terpisah di tiga ruangan. Masing-masing meja sembahyang adalah perwakilan dari beberapa patung dewa, nenek moyang, dan nabi umat Kong Hu Cu. Hio merupakan salah satu sesajen sembahyang. Sesajen lainnya yaitu dapat berupa buah-buahan, kue, beras, bunga, dan lain sebagainya.

Kelenteng ini juga tidak hanya digunakan sebagi tempat peribadatan. “Aktifitas belajar dan mengajar pun dilakukan dalam forum dan jadwal tertentu, dengan kurikulum berbasis pendidikan agama,” terang Soepadmogiri Ganiadi, selaku Ketua Yayasan Kelenteng. Kelenteng ini pula yang menjadi salah satu kelenteng yang didatangi oleh banyak kaum papa. Sejak pagi, kelenteng yang ramai dikunjungi pada hari minggu ini, dipenuhi oleh peminta-minta yang mayoritas perempuan. Apalagi pada perayaan Imlek, pastinya akan lebih banyak peminta-minta yang berdatangan ke sana, untuk mengail sedikit rezeki dari pengunjung.

naskah dan foto : abdul, octo | actasurya.com