actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
Facebook X (Twitter) Instagram
TRENDING
  • Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik
  • Kritik Sosial Eksploitasi Hewan dalam Pameran “Seni Lupa”
  • Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital
  • Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital
  • Berani Berbisnis: Mahasiswi Inspiratif Seimbangkan Pendidikan dan Usaha
  • Peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional 2024 dengan Pameran dan Orasi Kemanusiaan di Unair
  • Aksi Darurat Demokrasi di Surabaya, Buntut Kontroversi RUU Pilkada
  • Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Masyarakat dan Pers di Surabaya Gelar Aksi
Facebook X (Twitter) Instagram
actasurya.com
  • HOME
  • BERITA
  • FEATURES
    • TOKOH
    • SENI & BUDAYA
    • GAYA HIDUP
  • OPINI
  • SASTRA
    • PUISI
    • CERPEN
  • PHOTOGRAPHY
  • E MAGAZINE
  • REDAKSI
actasurya.com
Home»BERITA»Jangan Lupakan, Jadikan saja Kenangan
BERITA

Jangan Lupakan, Jadikan saja Kenangan

redaksiBy redaksi14 Mei 2019
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Salah satu saksi pengeboman di SMTB pada 13 Mei 2018, Suster Wiwik ceritakan peristiwa dan ia mengira hanya ledakan kompor.

Actasurya.com – Mengingat peristiwa 13 Mei 2018, tepatnya satu tahun silam terjadi insiden pengeboman oleh teroris di beberapa Gereja di Surabaya, seperti Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB). Memutar kembali memori yang mencekam Kota Pahlawan, pada peluncuran buku “Merawat Ingatan Merajut Kemanusiaan” oleh IDEA.JUDGE.ACT Idenera, mendatangkan saksi kejadian peristiwa pengeboman, seperti Biarawati Wiwik Suster di SMTB, Deswanda aktivis gereja, Romo Kurdo, Pastor Paroki Gereja SMTB dan masih banyak lainnya.

Deswanda mengatakan, jika ia diberikan pertanyaan masih trauma atau tidak terkait bom bunuh diri satu tahun silam. Dengan tegas, dia menjawab ‘Tidak’.

Mengapa? Lanjut Deswanda, karena ia terlalu mendalami ketakutan yang membuat para pelaku merasa apa yang mereka lakukan berhasil dan membuat para korban celaka. Terutama di gereja SMTB, untuk merasa ketakutan dan tidak akan kembali lagi beribadah.

“Tapi nyatanya, kami berhasil untuk memaafkan dan kembali lagi di gereja ini,” kata Deswanda di teras perpustakaan SMTB, Senin (13/5/2019).

Selain itu, Biarawati Wiwik atau yang kerap disapa Suster Wiwik mengatakan, jika peristiwa pengeboman itu sebagai peristiwa ‘Iman’. Juga memberikan kekuatan dan bersama melupakan dengan melakukan aktivitas seperti  biasa tanpa mengingat insiden menegangkan.

 “Peristiwa itu tak akan pernah terlupakan. Untuk melupakan pasti tidak bisa tapi bagaimana jika peristiwa itu terjadi? Kami bisa melihat dalam diri kita sendiri, siapakah yang salah, tapi jika bisa bersatu, kita bisa siap sedia itu tak kan pernah terjadi,” ujar dia.

Sementara itu, Romo Kurdo menjelaskan, saat dia melihat, bahwa melalui peristiwa bom 13 Mei 2018 silam membuat semua orang diingatkan kembali pada nilai persaudaraan sejati.

“Dengan peristiwa tersebut, saya merasa bahwa Gereja Katolik sendiri diingatkan akan pentingnya persaudaraan sejati yang disadarkan pada kesetaraan, solidaritas dan kesatuan sebagai sesama manusia,” katanya.

Menurutnya, peristiwa tersebut juga menawarkan bentuk kemartiran baru. Namun, pada masa sekarang kemartiran tidak lagi dipandang sebagai mempertahankan Iman saja, tetapi perdamaian, kemanusiaan dan persaudaraan.

Terkait dengan adanya peristiwa bom, pada prelaunching buku Idenera, terdapat tulisan masyarakat Indonesia bahkan luar negeri turut membuat Idenera.com sebagai penerbit buku. Juga mengingat memori pengalaman dari korban aksi teroris, mulai dari kumpulan peristiwa 1000 lilin yang diadakan di Taman Apsari Surabaya, hingga mengenang 40 hari korban.

Para jemaat umat Katolik beribadah misa Doa Rosario, diselang dengan umat Muslim berbuka puasa di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Surabaya, pada (13/4).

Serangkaian acara tersebut terdapat diskusi dan dilanjut buka bersama lintas agama yang menjadi serangkaian acara dari pihak gereja STMB. Kemudian para jemaat beribadah misa Doa Rosario bagi umat Katolik, dan umat muslim berbuka puasa serta menjalankan ibadah Sholat Maghrib. (N/F: cla/hni) 

Neraacademia peristiwa bom 13 mei prelaunching buku
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
redaksi
  • Website
  • Facebook
  • X (Twitter)
  • Instagram

Related Posts

Udara Surabaya ‘Dihantui’ Mikroplastik

14 November 2025

Mahasiswa Stikosa AWS Membersamai UMKM Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Melek Digital

5 Juli 2025

Hari Ibu Jadi Momentum RTIK Surabaya Kenalkan Teknologi AI untuk Pemasaran Digital

23 Desember 2024

Leave A Reply Cancel Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

NAVIGASI
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
JEJARING KAMI
Tweets by actasurya
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • IKLAN
  • E MAGAZINE
  • TENTANG KAMI
  • ATURAN PENGGUNAAN
  • ARSIP
  • KONTAK
© 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.