Jadi Persma yang Berani Menggonggong

Ketika pers kami tidur, tidak berani menggonggong, namun pers kampus berani, itulah jasa pers kampus yang sebenarnya.

actasurya.com – Begitulah ungkapan yang dilontarkan Sabam Leo Batubara pada Workshop Jurnalistik Mahasiswa yang dihelat di Hotel Garden Palace, Kamis (25/2). Kalimat tersebut sontak membakar semangat 70 perwakilan Pers Mahasiswa (Persma) se-Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

Mantan Wakil Ketua Dewan Pers periode 2007 hingga 2010 ini juga menyebutkan, persma sebagai media alternatif mampu mengukir tonggak sejarah yang mana pers umum tak bisa lakukan. Misalnya saja pada era reformasi Mei 1998, dimana saat itu terjadi transformasi sistem politik otoriter ke demokrasi, juga pergeseran sistem pers terkendali ke pers yang lebih merdeka. Tentu saja hal-hal tersebut dimotori oleh persma.

Hal ini juga diperkuat penuturan Imam Wahyudi, salah satu anggota Dewan Pers yang turut membagikan ilmunya. Imam bercerita, kala itu, ayahnya tidak berlangganan koran yang diproduksi pers umum, melainkan lebih memilih membaca koran besutan persma asal Jakarta : Salemba.

“Bayangkan saja, rumah saya di Lumajang, tapi tidak menghalangi ayah saya untuk tetap berlangganan koran bikinan persma di Jakarta sana,” ujar pria yang sempat bekerja di salah satu stasiun TV swasta ini.

Imam berkisah, alasan ayahnya kerap memilih menyantap berita yang disajikan persma, lantaran persma dinilai lebih berani dan kritis dalam menanggapi isu sosial. Pun juga mahasiswa pada dasarnya tidak memiliki kepentingan apapun selain berpihak kepada masyarakat. Berbeda dengan pers umum yang waktu itu dianggapnya tiarap terhadap kebijakan Orde Baru.

Namun, banyaknya persma di Indonesia, terlebih di Surabaya sendiri memberikan tantangan baru kepada pengurus persma. Dimana hal yang paling penting bagi setiap persma adalah berita yang ia sajikan, dibaca oleh khalayak. Sebab perihal ini, Imam bertutur jika persma masa kini harus mencari diferensiasi dari pers mainstream apalagi sesama persma. Tentu ini penting dilakukan guna menarik minat pembaca.

BACA JUGA   Kontes Hidung Pesek Ala Kucing

“Ibaratkan kalian memproduksi jemblem, semua jemblem rasanya manis. Tantangannya bagaimana kalian bikin jemblem yang rasanya berbeda tapi enak dan menarik?” tambah Imam dengan gaya khasnya yang santai.

Dalam acara yang dibuka pukul 09.00 ini, turut hadir pula Ray Wijaya, anggota Dewan Pers yang kini menjadi Pemred MNC TV. Seperti halnya Leo Batubara dan Imam Wahyudi, Ray juga memberikan materi yang bertajuk ‘Kiat Mengelola Pers Kampus secara Profesional’.

Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Pers ini merupakan acara tetap yang dilakukan selama beberapa periode di berbagai kota. Dewan Pers sebagai lembaga pers di Indonesia, merasa berkewajiban menyiapkan persma untuk lebih profesional, karena persma juga dinilai memiliki kekuatan untuk membangkitkan pers di tanah air. Tak hanya itu, acara ini juga menjadi ajang berbagi gagasan bagaimana mengelola dan mengembangkan persma. (N/F: Hilda/Haris)