Google Peringati 137 Tahun Lahirnya RA Kartini

actasurya.com – Ada yang menarik dengan tampilan homepage google hari ini. Tulisannya berwarna cokelat beraksen vintage, dengan huruf O kedua pada google yang diganti dengan lukisan wanita berkebaya yang sedang membawa buku, Raden Ajeng Kartini. Apabila kita mengarahkan kursor pada gambar, maka akan muncul tulisan hari lahir RA Kartini ke-137.

Hari ini, tepatnya Kamis (21/4) merupakan hari peringatan ke-137 tahun lahirnya RA Kartini. Sudah ratusan tahun yang lalu Kartini meninggal dunia di usianya yang ke-25 tahun, namun nama dan jasanya tetap hidup dalam ingatan seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan.

Keppres No. 108 Tahun 1964, pada 2 Mei 1964, menetapkan Kartini resmi digelari pahlawan nasional oleh Pemerintah Indonesia. Keppres ini juga menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan. Tidak hanya di kota-kota di Indonesia saja, melainkan di kota-kota di Belanda, seperti Kota Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Harleem. WR. Supratman bahkan membuatkan lagu berjudul Ibu Kita Kartini untuk mengenang jasa-jasanya.

Kartini merupakan sosok perempuan asal Jepara yang berjuang membebaskan perempuan dari tradisi yang menjadi sekat mereka dari pendidikan. Pada jamannya, sekolahan adalah tempat memperoleh pendidikan, dimana hanya laki-laki yang boleh masuk dan belajar di sana. Perempuan memiliki kesempatan yang sangat sedikit dan terbatas untuk dapat bersekolah dan memperoleh pendidikan.

Keterbatasan kaum perempuan untuk bersekolah dan memperoleh pendidikan itulah yang menimbulkan kekhawatiran dalam diri RA Kartini. Kekhawatiran akan nasib dirinya dan perempuan-perempuan yang lain di masa depan. Beruntung saat itu Kartini merupakan putri dari seorang gubernur, sehingga ia bisa mengecap pendidikan dasar, walau hanya sebentar.

Berbekal ilmu seadanya yang ia peroleh dari pendidikan dasar, buku-buku yang ia baca dan kegiatan korespondensi dengan teman-temannya di Belanda. Kartini mendirikan sekolah wanita, yang dikenal dengan nama Sekolah Kartini.

BACA JUGA   Kesiapan Perpusda Jelang Kompetisi

Surat-surat kiriman  Kartini pada teman-temannya di Belanda kemudian dibukukan oleh Abendanon, yang juga merupakan teman Kartini di Belanda. Buku itu kemudian dicetak dengan judul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Terang yang sudah diciptakan Kartini merupakan alat bagi perempuan saat ini untuk mencari jalan, memantapkan langkah. Perempuan sudah dibebaskan memperoleh pendidikan dimanapun dan apapun yang mereka inginkan, hal ini jangan sampai menjadi sesuatu yang menjadi sia-sia. Penghargaan atas jasa Kartini tidak bisa hanya sebatas nama jalan, peringatan atas perjuangannya tidak boleh hanya sebatas karnaval kebaya belaka. (N/F : Titis/Google)