Bicara Kepalsuan di Malam Cinta

actasurya.com – “Humas negara kita juga sebenarnya sedang menyebarkan hoax (berita palsu). Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang mengatur soal penyebaran informasi di media, kan sesungguhnya adalah strategi perniagaan. Melindungi perdagangan dalam industri di dunia maya agar tetap stabil,” ungkap Viktor, Dosen Hukum Universitas Katolik Darma Candika. Ia menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertema Va-Hoax-tine, Selasa (14/02) di warung Mbah Cokro, Surabaya.

Viktor berpendapat bahwa pasal 28 ayat 2 yang mengatur tentang larangan menyebarkan berita bohong dan menyesatkan juga sebenarnya tidak pas jika diaplikasikan pada negara kita yang menganut paham demokrasi. “Demokrasi adalah kebebasan. Termasuk bebas berekspresi,” imbuhnya.  Menurutnya peraturan itu harus direvisi lagi, karena berita hoax tidak perlu dikriminalisasi. “Saya pikir sudahlah, negara ini terlalu banyak aturan. Sebenarnya kita hanya perlu edukasi untuk memberitahu masyarakat agar tidak melakukan penyebaran berita bohong,” jelasnya.

Duduk di depan paling kanan, perwakilan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia); Rovien Aryunia, Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi; serta Andrey Fifo, Psikolog, mengemukakan pendapat yang hampir sama bahwa penyebaran hoax atau berita bohong itu karena kegagalan literasi dari masyarakat kita.

“Ini ditambah masyarakat kita suka ngobrol. Makanya hoax itu kan ada karena terlalu banyak disusupi, ditambahi bumbu-bumbu. Setiap orang yang menerima berita dikasih bumbu lagi dan lagi,” jelas Fifo. Apalagi hoax itu sangat rentan terjadi jika sudah menyinggung soal Sara. Negara seperti Indonesia yang punya begitu banyak perbedaan menjadi target paling pas untuk ini. “Apalagi (isu) agama yang akhir-akhir ini tersebar di masyarakat, itu sangat sensitif,” tambah Rovien.

Agama adalah soal kebenaran. Agama siapa yang paling benar. Simon, Dosen Filsafah yang duduk persis di depan meja Rofin, dkk., memberikan tanggapannya. “Saya jadi bertanya-tanya bahwa jangan-jangan apa yang kita bicarakan malam ini semuanya adalah hoax. Karena kebenaran adalah sesuatu yang riil yang bisa diindra. Jangan-jangan agama itu juga hoax. Siapa yang bisa menjamin dengan indranya bahwa surga dan neraka itu ada?,” ungkapnya.

Mikrofon berpindah ke meja sebelah kiri. Salah seorang dosen yang duduk bersama Viktor meminta untuk diberi kesempatan berbicara. “Saya punya seorang guru besar yang menyebarkan hoax,” dia bercerita. “Sebenarnya, menurut saya, hanyalah masalah sudut pandang. Begitu pula kebenaran. Saya pikir, kebenaran adalah bukan masalah menemukan tapi mencari,” pungkasnya.

Hujan turun dan moderator menjeda diskusi. Gorbi dan Irma dari Gema (Generasi Muda Adonara) memainkan sebuah lagu. Nuansa berubah jadi cair kembali. Orang-orang yang hadir saling mengobrol dengan teman semeja, minum kopi dan tertawa. Suasana terdengar meriah dengan lagu yang mengalir bersama bunyi rintik hujan yang jatuh di atap warung.

Lagu selesai, lalu moderator melanjutkan. Banyak kemudian ide, solusi serta pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan dalam forum. Salah satunya Lia, seorang pendidik, mengatakan bahwa penyebaran hoax bisa terjadi karena orang-orang yang menyebarkannya tidak mungkin tidak bodoh. “Jadi menurut saya pendidikan adalah akar dari kekacauan ini,” katanya.

“Penyebab dari adanya hoax sangat beragam,” imbuh salah seorang laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai dosen, yang duduk di sebelah Simon. “Bahkan yang lebih ekstrim, hoax dijadikan sebagai lahan bisnis,” katanya.

BACA JUGA   Kenang Slamet AS, Pertemuan Musik gelar Doa Bunyi.

Semua orang yang hadir saling mengemukakan pendapatnya. Seolah tidak mau kalah, seorang mahasiswa pun angkat bicara. “Saya risih dengan berita-berita di Facebook. Seolah-olah membuat status itu harus yang hoax. Maksud saya, karena berita-berita yang kami buat seperti menyebarkan berita-berita tentang matinya artis atau tentang asmara, status kita jadi di-like. Intensitas kebahagiaan kita itu bisa diukur dari seberapa banyak likers-nya,” cerita mahasiswa tersebut.

Setelah melalui kalimat-kalimat panjang yang dikemukakan oleh hampir semua orang yang hadir, diskusi akhirnya tiba pada penghujung acara. “Masalah ini belum selesai. Jadi teman-teman yang belum ingin pulang boleh melanjutkannya sampai pagi,” ujar pemandu acara yang sudah mengambil alih acara dari moderator. Diskusi ditutup dengan pembacaan puisi oleh Parker, anggota Teater Kusuma, Untag (Universitas 17 Agustus) Surabaya.

Va-Hoax-tine merupakan serangkaian acara diskusi dari Neratalk, salah satu acara rutin tahunan dari komunitas belajar Nera Academia. Sebelumnya tahun 2016, Nera Academia sudah melakukan serangkaian acara. Salah satunya saat Bulan Februari tahun kemarin, mereka mengangkat tema diskusi tentang Peta dan Valentine. Lalu bulan berikutnya dilanjutkan dengan diskusi Penceritaan Sejarah dari Tetralogi Pulau Buruh-nya Pramudya Ananta Toer yang diadakan secara maraton selama dua bulan. “Waktu itu kita mengadakannya tiap Jumat, totalnya tujuh kali dan Va-hoax-tine malam ini adalah diskusi pertama untuk tahun ini,” jelas Juffen Timur selaku koordinator diskusi.

Diskusi kali ini bertujuan agar masyarakat lebih peka terhadap informasi yang mereka terima. “Terlepas dari keputusan di sini (forum diskusi), apakah ini benar atau salah. Pada akhirnya kan kita pulang dengan membawa sikap masing-masing,” jelas Juffen.

“Makna dari kata Va-hoax-tine sendiri sebenarnya karena momen hari ini Valentine yang ramai juga diperbincangkan itu. Terus hoax ini mewakili fenomena yang sedang terjadi,” kata Juffen menjelaskan makna dari tema diskusinya kali ini. Menurutnya, daripada masyarakat  ramai-ramai berbicara tentang menolak Valentine. Mengatakan bahwa Valentine itu haram dan sebagainya, lebih baik melakukan diskusi seperti ini.

Sejurus dengan Juffen, Yeri, salah satu peserta diskusi mengatakan apa yang dilakukan oleh teman-teman Nera Academia ini kreatif. “Karena persepsi orang Indonesia  Valentine itu negatif, jadi alangkah lebih baiknya kita membuat dengan cara yang bebeda seperti ini. Menurut saya ini sangat positif, merayakannya dengan diskursus,” jelasnya. (N/F: Ebi)