Warung Kopi, Budaya Lokal

actasurya.com – Dewasa ini, warung kopi sebagai entitas budaya yang tak hanya sebagai tempat tongkrongan saja. Kedai yang biasanya digunakan untuk melepas penat kini acap kali difungsikan sebagai sarang berdiskusi yang produktif, dan jauh dari kepentingan politik. Banyak hal yang bisa diperbincangkan disini, obrolan ringan serta pembahasan pergerakan social misalnya.

Sebagai contoh, Warung Mbah Cokro, yang berlokasi di Jalan Raya Prapen No. 22 ini. Rabu (14/02), warung ini dipilih oleh Nera Academia sebagai ruang berdiskusi yang cocok bagi mereka untuk menghelat acara #neratalklaunching yang bertajuk Prapen I’m In Love.

Tema ini sengaja dipilih sebagai bentuk apresiasi komunitas independent yang bergerak dibidang social ini kepada Warung Mbah Cokro. Dan acara diskusi ini, merupakan event dialog perdana Nera Academia di tahun 2018.

Suasa diskusi yang membahas warung kopi sebagai entitas budaya bersama dua pembicara yaitu, Wahyu Krisnanto (kiri) dan M. Zurqoni (kanan) yang berlangsung Rabu (14/02) di Warung Mbah Cokro, Prapen- Surabaya.

Tepat pada pukul setengah tujuh malam, acara yang mengangkat topik Warung Kopi Sebagai Entitas Budaya ini pun dimulai. Pada perbincangan kali ini, banyak obrolan yang membahas tentang budaya cangkruk di Indonesia.

Di Warung Mbah Cokro sendiri, tak hanya untuk dialektika antar meja, tetapi juga dikonsep untuk berkreasi seperti menampilkan acara pameran, seni, musik, sampai adanya acara ludruk disini.
Kampus-kampus sekarang juga tidak lagi menjadi tempat orang bertukar pikiran, tetapi hanya menjadi seperti pabrik bukan sebagai tempat belajar, sehingga kekritisan merasa di batasi.

Maka dari itu perkuliahan sekarang lebih condong menghasilkan para calon pekerja bukan pemikir, sehingga kampus tempat untuk menuntut ilmu sekarang berubah menjadi tempat untuk seorang pekerja, yang kurangnya memberikan ruang untuk tempat berdiskusi.

Pada akhirnya kebanyakan mahasiswa lebih memilih warung kopi untuk digunakan berdiskusi dan bertukar pikiran, serta sebagai mahasiswa dapat juga untuk mengkritisi pemerintah.“Jangan lelah untuk menyebarkan virus-virus kekritisan, dan membuka ruas seluas-luasnya berdialog dengan sesama tanpa adanya sebuah sekat yang membentengi kita untuk selalu berinteraksi,” terang Wahyu.

Di periode Soeharto, cara berdiskusi mahasiswa dibuat seperti cangkrukan. Karena di kampus pada zaman Orde lama selalu mendapat perhatian khusus terutama mahasiswa yang vocal terhadap pemerintah. Nah dari sini mahasiswa berpikir bahwa dirinya sedang diawasi, oleh karenanya dipilihlah warung kopi sebagai tempat yang pas untuk berdiskusi.

Tidak hanya berhenti di wacana dan dialektika saja, tetapi juga ada aksinya. “Ngomong tok gaonok aksine yo percuma,”ujar Wahyu Krisnanto pembicara lembaga studi etnika. Tidak ada perubahan karena terbatas pemikiran-pemikiran yang gak ada aksinya, Dari situ mahasiswa berfikir bagaimana melawan pemerintahan orde lama pada tahun 80an.

Dengan berkembangnya jaman, warung kopi kini menyuguhkan fasilitas WiFi dan stop kontak, sehingga pengunjung cenderung sibuk dengan gawai masing-masing hingga asik bermain game. Namun itu tidak berlaku di Warung Mbah Cokro ini, disini tidak menyediakan fasilitas akses WiFi. Gemuruh suara orang berdiskusi menjadi sebuah kesenian tersendiri.

Dipenghujung perbincangan, pemilik warung yang terinspirasi dari sosok HOS Cokroaminoto ini menyampaikan banyak harapan dengan diadakannya beragai forum di warung yang didiraknnya tersebut. “Saya harap forum ini akan menghasilkan sesuatu, tidak hanya berwacana tetapi juga rekomendasi yang disampaikan dan diambil kebijakan,” ujar pria yang akrab disapa Mas Zur ini. (N/F : Avit, Fadilla, Luqman)