Warok dalam Dunia Para Wong

Sabtu malam (07/11) pukul 19.00 di Gedung kesenian Cak Durasim beberapa kelompok teater menyuguhkan karyanya. Pagelaran teater sebagai rangkaian peringatan hari pahlawan 10 november 2009 diawali suguhan teatrikal bertema “Bumi Para Wong” oleh Teater Tiang dari FKIP Universitas Jember, Jember.

Pegelaran yang diperankan oleh sebelas orang tersebut menceritakan perubahan karakter seorang warok. Sejatinya warok memilki tabiat ksatria, sangar atau kekar, dan sangat terikat dengan dunia spiritual. “sejak semua warok dinikahkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 80-an, dari situ terjadi perubahan pada diri pribadi para Warok”, tutur ferick yang memerankan tokoh wong Laga (logo, jawa).

Perubahan yang terjadi pada Warok misalnya dalam menyikapi masalah. Jika dulunya dengan cara kesatria. Tidak demikian sekarang. Mereka para Warok cenderung pragmatis atau mencari jalan tengah, namun tidak meninggalkan nilai-nilai kewarokan.”kebiasan yang digunakan warok sekarang berbeda dengan dulu, tapi tetap tidak meninggalkan ciri khasnya” terang mahasiswa FKIP Universitas Jember tersebut.

Tambahnya pula, untuk melestarikan tradisi dan penerus Warok agar tidak punah. Mereka diperkenankan menikah. Dengan syarat pernikahan yang dilaksanakan tidak didasari keinginan nafsu atau hasrat seksual. Melainkan hanya terbatas bisa melahirkan seorang anak. Pasalnya, dahulu sebenarnya menikah adalah pantangan tersendiri bagi warok. Maka dari itu biasanya setiap warok memiliki gemblok atau ingon-ingon (murid atau anak asuh).”mereka sebagai pelampiasan sek sang Warok, namun itu bukan homo” Pungkas Ferick. (Naskahdan Foto : Robbah Mahzumi)