Warna Warni Ketan Zebra

Mendengar kata Zebra, ingatan tertuju pada binatang berkaki empat berwana hitam dan putih pada kulitnya. Salah satu warung di kawasan Pande Giling Surabaya, sengaja menggunakan nama binatang mirip kuda ini sebagai salah satu hidangan. Mengapa demikian?

Ketan putih, ketan hitam, kelapa parut dan sambal kedelai berpadu dalam satu kemasan. Sang empunya menamai Ketan Zebra. Nama ini sengaja dipilih untuk menarik animo masyarakat. Terbukti, beberapa orang yang melintas di depan warung, mampir sejenak untuk mencoba. Seperti Vivi, wanita 30 tahun ini datang bersama suaminya untuk membungkus ketan zebra. “Saya tadi pas lewat dan noleh, kok ngelihat ada tulisan ketan zebra dan penasaran. Akhirnya saya langsung pengen mencobanya”, aku wanita asal Probolinggo.

Ketan zebra bukan makanan tradisional khas daerah. Penganan yang dibubuhi sambal kedelai itu merupakan kreasi almarhumah Juminah, yang berdiri sejak 1988. Tiga tahun terakhir, usahanya diteruskan Istirokha, menantunya.

Diwarung ibu dua anak itu, pembeli bisa memilih variasi menu ketan zebra. Seperti ketan putih dibubuhi kelapa parut dan sambal kedelai atau ketan hitam dengan parutan kelapa. Meski hanya memilih satu varian saja, pembeli tidak perlu takut kehilangan rasa. Sebab, Istirokha menyajikan rasa gurih pada ketan putih dan manis untuk ketan hitam. Ketan zebra makin nikmat ditemani teh atau jahe hangat.

Proses pembuatannya tidak terlalu rumit. Rendam ketan hitam dan putih ke dalam air. Untuk ketan hitam, proses perendaman dilakukan selama lima jam. Sedangkan ketan putih lebih singkat, yakni satu jam. Lalu, keduanya dikukus dan ditiriskan dengan wadah yang berbeda. Tak lupa mencampurkan resep rahasia warisan Almarhumah juminah.

Tak hanya warga sekitar, warung yang terletak di jalan Pande giling no 125 ini memiliki pelanggan hingga wilayah Kenjeran. “Pembelinya itu ada yang dari daerah Dukuh Kupang Timur, Banyu Urip, Simo, Kenjeran dan masih banyak lagi”, jelas istri Sumardi.

Dalam sehari, Istirokha menghabiskan lima kilogram ketan hitam dan putih. Perempuan asal Nganjuk itu melayani pelanggan mulai pukul 13.00 sampai dini hari. Khusus ketan zebra, baru tersedia mulai pukul 17.00 sampai 23.00. “Biasanya jam 20.00 juga udah habis mbak, soalnya dipesen untuk tahlilan, gereja, arisan dan untuk yang lainnya”, tuturnya sembari sibuk melayani pelanggan.

Naskah: Rossari Yusnita, Bayu Basu Seno