Warga Sepat Gelar Demo Selawase

(Aksi Warga Waduk Sepat saat demo di depan Polda Jawa Timur Jl. A. Yani no 116, Surabaya, Kamis (13/12). Dengan membentangkan spanduk berisi tuntutan kepada Wali Kota Surabaya).

Actasurya.com – Puluhan warga Dukuh Sepat, Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri Surabaya, menggelar aksi demonstrasi “Selawase” (selamatkan Waduk Sepat) tepat di depan Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani pada kamis 13 Desember 2018.

Para demonstran memberi dukungan kepada warga Waduk Sepat yang kini menjalani pemeriksaan terkait tuduhan

Aksi ini digelar ketiga kalinya setelah pemanggilan dua warga setempat yang kini statusnya sudah menjadi tersangka yaitu Darno dan Dian Purnomo, mereka adalah aktivis lingkungan hidup yang turut mempertahankan Waduk Sepat.

Penetapan tersangka oleh Polda Jatim tersebut atas tuduhan memasuki pekarangan tanpa izin serta perusakan properti, sementara warga menyatakan hanya berinisiatif untuk menutup sementara pintu air yang sudah terpotong dengan tanah agar air tidak keluar terus menerus.

Demonstran juga menolak adanya pengurukan yang dilakukan oleh pihak PT. Ciputra Surya, menurutnya pembangunan yang dilakukan akan merugikan rakyat kecil.  

Perlu diketahui PT. Ciputra Surya adalah pengembang yang terlibat dalam ruislag (tukar guling) Waduk Sepat dengan Pemkot  Surabaya pada tahun 2008. Waduk Sepat dalam dokumen ruislag dikatakan sebagai tanah pekarangan, secara logika material sudah menyalahi prosedur dan aturan.

Hal ini sudah dilaporkan ke LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan), Polsek dan diketahui oleh Lurah guna meminta izin memasuki lokasi untuk melihat kondisi waduk, dan ternyata benar pompa air yang ada di dalam waduk sudah rusak dan airnya mengalir terus menerus, otomatis air yang di waduk akan habis jika tidak dihentikan.

Untuk proses masuk ke pekarangan sendiri, warga dikawal oleh pihak berwajib, tetapi yang terjadi  ada empat orang yang dipanggil dan sekarang yang dijadikan tersangka dua orang .

Penetapan dua orang itu sudah sejak bulan November lalu dengan dugaan memasuki pekarangan dan perusakan, “padahal kan musim kemarau tapi air di waduk kami mengalir deras, kami curiga ada upaya dari mereka untuk mengeringkan waduk, kalau kering tidak menutup kemungkinan akan diuruk,” ujar Muriani salah satu warga yang ikut aksi pada siang itu.(N/F : sla/han/luq )