Visualisasi Kota Surabaya Lewat Ragam Netra

Seorang pengunjung saat mengamati karya foto dengan judul Ragam Netra, karya 12 mahasiswa anggota Himmarfi Stikosa-AWS yang digelar di Bober Cafe Surabaya, Senin (29/7).

ActaSurya.com – Untuk kesekian kalinya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi (Himmarfi) Stikosa-AWS, memvisualisasikan karya fotografinya melalui pameran Himmarfi Intermediate Training (HIT) bertempat di Bober Cafe Surabaya (29/7).

Karya hasil jepretan mereka disajikan dalam pameran bertajuk Ragam Netra, yang menampilkan berbagai karya foto dan banyak cerita yang diangkat tentang sudut pandang berbeda dari Kota Pahlawan.

“Kita mengangkat berbagai sudut pandang di Kota Surabaya, terutama hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat, seperti kondisi lalu lintas di Surabaya, yang menjadi kota dengan jumlah kecelakaan lalu lintas terbanyak nomor tiga di Jawa Timur, “ujar Ketua Pelaksana, Fadhilah Yunviani Hidayat.

Terdapat 90 karya foto yang menggambarkan keberanekaragaman di Kota Surabaya, mulai dari cerita tentang semanggi makanan yang melegenda di Surabaya, kerajinan dari eceng gondok hingga cerita kehidupan anak tuna netra yang dikulik oleh 12 fotografer muda tersebut.

Becki Subekhi, yang menjadi salah satu mentor di Pameran HIT ini, menegaskan ada tiga karya foto terbaik. “Pertama Foto kondisi lalu lintas Kota Surabaya, karena pesan yang disampaikan oleh si fotografer tersampaikan melalui ekspresi salah satu pengendara motor yang tidak menggunakan helm dengan benar, serta angle yang ditonjolkan tidak jenuh, sebab fotografernya¬†mengambil¬†berbagai angle,” tuturnya.

Selain itu, ada dua foto lagi yang menurut Redaktur Fotografer Jawa Pos ini yang menarik. Salah satunya suasana Car Free Day serta penjual makanan semanggi, namun sayangnya dari kedua foto tersebut, masih kurang narasi foto yang menggambarkan cerita dari foto penjual makanan semanggi.

“Maka dari itu kenapa kita tidak boleh mengabaikan teks dalam sebuah foto? karena fotografi jurnalistik didukung oleh teks dan kita tidak boleh beropini dalam sebuah karya,” sambungnya.

Dalam acara pameran HIT ini, Becki juga melontarkan harapannya kepada para 12 fotografer muda Himmarfi. “Saya berharap kepada 12 fotografer muda ini agar mengasah kemampuannya di bidang fotografi dan pameran ini bentuk salah satu proses kematangan, mendukung agar kelak mereka menjadi fotografer jurnalistik hebat,” tutupnya.

(N/F: Alf/kik)