Sulap Kota Mojokerto Sebagai Kampung Sepatu

actasurya.com – Tidak hanya di kota Bandung yang terkenal dengan produksi sepatunya, nampanya kini Mojokerto juga mengikuti jejak kota kembang tersebut yang menjadikan kota Mojokerto sebagai Kampung Sepatu. Hanya saja di Kota Bandung terpusat di kawasan Cibaduyut. Sedangkan di Kota Mojokerto tersebar di beberapa kelurahan. Tercatat, di kelurahan Miji terdapat 35 unit usaha pengerajin sepatu dan Kelurahan Surodinawan sekitar 59 unit.

“Sentral dan produksi sepatu itu berada di dalam pemukiman warga, terutama kecamatan Prajurit Kulon, antara lain di kelurahan Miji, Surodinawan, Prajurit Kulon, Blooto, beberapa kelurahan lainnya,” jelas Indah S. Andajani, Sekretaris Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag), Selasa (10/6).

Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto melalui Diskoperindag merintis Kampung Sepatu sejak 2012. Ini merupakan upaya untuk menarik masyarakat khususnya dari luar kota untuk mengenal sepatu hasil produksi Mojokerto. Dengan begitu akan banyak wisatawan luar kota datang berkunjung, dan Kampung Sepatu menjadi salah satu objek wisata di Kota Mojokerto.

“Kota Mojokerto sendiri minim Sumber Daya Alam (SDA). Oleh karena itu, diharapkan kampung sepatu dapat menjadi salah satu objek wisata yang dikunjungi, khususnya dari luar kota,” kata Indah yang mewakili Kepala Dinas Kosperindag Ahmad Zainuddin yang tidak ada di tempat.

Sementara itu, dari Peraturan Menteri Perindustrian juga menetapkan di Kota Mojokerto sendiri kompetensi inti daerahnya adalah industri alas kaki kecil menengah. Terbukti, industri alas kaki baik sepatu dan sandal di Mojokerto menjadi produksi paling besar dan unggul dibandingkan hasil produksi lainnya.

Salah satu pengusaha industri alas kaki, Mohammad Atiq, mengakui dari Diskoperindag sendiri ikut membantu dirinya dalam penyedian etalase, mesin seset dan mesin jahit double dalam proses produksi. Di samping itu, dia juga disediakan neon box ‘Kampung Sepatu’ sebagai papan nama penunjuk salah satu tempat industri alas kaki.

Berbeda dengan Mohammad Atiq, pengusaha yang memiliki rumah produksi di jalan Sinoman gang 6, Teguh Purnomo mengaku dirinya setiap harinya mampu memproduksi dan mendistribusikan 15 kodi. Sebagian besar didistribusikan ke Kota Surabaya, Sidoarjo dan beberapa kota besar lainnya.

naskah : Fahmi Aziz | foto : Haris Dwi