Sirikit Syah: Puisi Sukmawati dibalas Puisi Saja.

actasurya.com – Sirikit Syah, penulis serta pengamat media, berkomentar tentang kasus puisi ‘Ibu Indonesia’ dari Sukmawati Soekarnoputri yang dilaporkan ke polisi atas tuduhan penistaan agama. Menurut Sirikit, tidak perlu sampai ke polisi, puisi itu semestinya dibalas dengan puisi saja.

“Puisi Sukmawati itu menggarisbawahi perbedaan. Kita memang beda. Jadi gak perlu diperuncing lagi,” jelas Sirikit saat ditemui pada acara Bedah Buku dan Apresiasi Karya: ‘Kudengar Angin Itu Mencurimu’, di Pendopo Stikosa AWS, Rabu (4/4).

Menurut Sirikit, ketika puisi itu dibawa ke ranah hukum, maka itu akan berakibat juga pada undang-undang kebebasan berekspresi yang jadi terlihat tumpul.

“Puisi itu tidak ada yang salah. Tidak ada yang jelek. Hanya selera dan persepsi setiap pendengarnya saja yang berbeda,” katanya.

Sirikit juga sebenarnya menyayangkan konten puisi tersebut. Sirikit pun menulis balasan yang ia tuangkan ke dalam puisi berjudul ‘Puisi Bukan untuk Mengotori Dunia’ yang ia kutip dari kalimat sastrawan Robert Browning.

Dalam Blognya, puisi yang ia tulis Selasa (3/4) itu, berisi tentang keheranannya pada Sukmawati serta himbauannya agar setiap warga negara tetap menjaga keharmonisan. Bahwa di waktu remaja, ia dulu begitu mengagumi Sukmawati yang bergaya hidup nyeniman dan bermarga Sukarno. Tetapi di masa tuanya, Sukmawati malah membuat ulah. Berikut beberapa kutipan puisi dari Sirikit Syah:

Di masa tuaku kini
Aku dikejutkan ulahmu
Berpuisi tentang hal-hal yang tak kau tahu

Kau bilang kau tak tahu syariat,
Tapi kenapa kau menghujat?
Di balik estetika puisimu
Tersembunyi rasa kebencian
Akan hal-hal yg engkau mengaku tak tahu

Sudahlah, Sukmawati
Eramu telah lewat
Lama tak berkarya
Sekalinya berkarya, kau meracau

Puisi bukan untuk mengotori dunia
Puisi seharusnya menjernihkan
Saat politik mengotori dunia,”

Sukmawati Soekarnoputri dilaporkan ke polisi atas tuduhan penistaan agama. Puisi yang ia baca pada acara “29 Anne Avantie Berkarya” menuai banyak kritikan dari masyarakat. Puisi itu dinilai telah menghina agama Islam. Meski Sukmawati sudah meminta maaf, tetapi proses hukum tetap berjalan. (N: Ebi)