September Hitam, Soal Pergerakan Mahasiswa

Acta Surya – Bulan September menjadi bulan yang banyak menyimpan coretan kisah pilu para aktivis dalam menuntut keadilan. Pembunuhan Munir,Wiji Tukul, Marsinah, dan beberapa aktivis Hak Asasi Manusia yang berhubungan dengan kejadian G30 S/PKI yang terjadi tahun 1965.

Sebab dari kejadian itu, banyak pergerakan yang kemudian dilakukan oleh berbagai pihak guna menuntut keadilan atas tragedi itu. Seperti demonstrasi, aksi kamisan, dan berbagai cara dilakukan agar suara mereka didengar. Sebab pembunuhan para aktivis tersebut tidak pernah diungkap secara gamblang.

AWS Peli (Peduli Literasi) Stikosa-AWS yang digawangi oleh Figur Kautsar dan Izzatul Mucharom memunculkan tragedi itu dalam forum September Hitam yang dihelat di Pendopo Stikosa-AWS, Kamis (13/09).

Dengan mengusung tema Peran Intelektual Muda dalam Dunia Aktivisme, Obed Bima Wicandra (Dosen UK Petra Surabaya) yang menjadi pemantik diskusi saat itu menjelaskan sejauh mana mahasiswa saat ini harus berperan.

“Sebenarnya apakah mahasiswa bergerak dalam pergerakan atau dia menciptakan jalan yang berbeda, itu sama. Malah menurut saya yang terpenting  bukan menyoal tentang mahasiswa ikut dalam pergerakan, tetapi yang terpenting adalah sudah sejauh mana mahasiswa dapat membaca dan memiliki hati nurani untuk melihat keadaan lingkungannya,” tutur Obed.

Obed melanjutkan bahwa intelektual muda tak harus kaku melawan seperti halnya orang-orang terdahulu kita.

Anindiya Shabrina (Editor Merah Muda Memudar) sebagai salah satu pemantik diskusi juga pada malam itu, memberikan jawaban berbeda. Anindya  mengatakan bahwa mahasiswa belum bisa dikatakan sebagai Agent Of Change jika mereka belum  bisa menggandeng atau beraliansi dengan pergerakan yang lain, seperti gerakan buruh dan tani.

“Bahwasannya untuk saat ini, mahasiswa yang mengikuti dan berbondong-bondong  datang ke tempat diskusi selain hanya karena ingin tahu,  bisa juga mereka hanya sekedar suka dengan pembahasan yang akan diperbincangkan pada diskusi tersebut,” tutur editor Merah Muda Memudar tersebut.

Menurutnya mahasiswa bertugas mengontrol wacana dan mereka harus bersinergi dengan gerakan yang lain.

Malam itu peserta yang hadir didominasi oleh mahasiswa dari luar  dan mahasiswa lama Stikosa. Tampak mahasiswa baru yang menjadi sasaran pada diskusi ini hanya beberapa. Mereka tidak terlalu tertarik.

Figur Kautsar selaku Ketua Pelaksana, mengatakan acara ini adalah sebagai ajang untuk menyambut mahasiswa baru stikosa-aws, namun nyatanya tak sesuai sasaran, melihat kurangnya partisipasi mahasiwa baru.

“Nggak apa-apa sih, karena kita perannya hanya nyalakan api yang kecil. Untuk selanjutnya mahasiswa baru yang melanjutkan pergerakan itu,” ucapnya.

“Menurut saya, untuk ke mahasiswa Stikosa-AWS sendiri masih terlalu jauh, karena kita sudah lama vakum untuk membicarakan  perbincangan di luar kelas. Mungkin dari kepedulian terlebih dahulu, cara berpikir mahasiswa akan kejadian yang ada di sekitar. Keluar dari seorang mahasiswa kita yang hanya belajar, masuk kelas, cari duit, lulus tepat waktu, serta berwirausaha. Nah di luar itu kan banyak yang dapat kita lakukan. Apalagi kita berangkat sebagai manusia yang memiliki hati nurani,” imbuhnya.

Acara September Hitam turut dimeriahkan oleh Mata Rante, Kamis (13/9) di Pendopo Stikosa Aws.

Malam itu ada puisi Seonggok Jagung karya WS. Rendra, disuguhkan sebagai pembuka acara diskusi tersebut yang dibawakan oleh Iqbal “Corong” dari Teater Lingkar, dan dilanjutkan pembacaan puisi Sebatang lisong oleh Aditya Poundra.September Hitam, Soal Pergerakan Mahasiswa. (N/F: Sasa, Jelita)