Sekilas tentang Mendidik Manusia Indonesia

actasurya.com –  Neraacademia adalah komunitas diskusi yang berbasis di Surabaya. Melanjutkan Neratalk, bentuk pembahasan mereka tentang Indonesia tahun ini, Jumat (08/6) mereka mengonsep tajuk Mendidik Manusia Indonesia sebagai representasi dari sila ke-2.

Nantinya, dalam serangkaian tema diskusi yang akan diadakan, Neratalk akan menurunkan berbagai persoalan dari lima sila Pancasila.

“Jadi, kemarin sudah ada yang pertama yaitu ketuhanan yang maha esa. Nah kali ini mendidik manusia Indonesia yang ditarik dari kemanusiaan yang beradab,” ujar Basillia W Tupen selaku kordinator umum

Diskusi ini dibuka dengan performa musik akustik, lalu dilanjut dengan acara inti. Sebelum diskusi audiens dipersilahkan memaparkan pendapatnya, mengenai “kemanusiaan yang adil dan beradab” untuk membuka percakapan dengan pemantik.

Menghadirkan Dr. Ahmad Zainul Hamdi (UIN Sunan Ampel),  Sulistyanto Soejoso (budayawan dan pemerhati pendidikan)  dan Andre Yuris ( founder Neraacademia) sebagai pematik. Diskusi ini juga di moderatori oleh salah satu anggota dari Neracademia

Fokus pembahasan ini adalah tentang sistem pendidikan indonesia yang menjadi cara mendidik manusia itu adil dan beradab seperti bunyi sila kedua.

“Bagaimana menjadikan manusia adil dan beradap tentunya dengan mendidik manusia itu sendiri dalam pendidikan,” ucap Juffen anggota Neracademia saat membuka acara.

Acara di mulai pukul 20.00  WIB,  pembahasan pertama di sampaikan oleh dr. Ahmad Zainul Hamdi yang menjelaskan tentang  radikasilisme di kalangan anak muda yang tumbuh subur di dunia pendidikan. “Kenapa di dunia pendidikan/sekolah yang jadi sarang radikal? karena sistem pendidikan indonesia masih memupuk narasi kekerasan dan kebencian, banyak kan sekarang kasus guru memukul murid atau sebaliknya, “ ujarnya

Seolah mengamini hal tersebut kedua pematik diskusi juga menjelaskan hal yang sama, bahwa sistem pendidikan indonesia lah yang bermasalah. Sehingga harapan menjadikan manusia yang adil dan beradab di dunia pendidikan merupakan hal tak bisa di harapkan lagi.

“Saya dulu hidup di asrama di mana kekerasan dan bullying menjadi hal yang lumrah,” jelas Andre Yuris sebagai pematik kedua.

Pendidikan di Indonesia memang masih dekat dengan ketidakadilan. Tapi menurut Sulistyo hal itu bisa dirubah.

“Solusi dari semua ini adalah merubah paradigma pendidikan indonesia dari kekerasan,  kesenjangan  dan kebencian menjadi kebaikan serta kreatif,” tuturnya.

(N/F: Pita Sari, Adi Atma)