Respon Dunia Pendidikan Lewat Komunitas.

Actasurya.com – Berawal dari rasa keprihatinan terhadap dunia pendidikan yang dirasa masih tertinggal, berdirilah sebuah komunitas bernama Gerlik (Gerakan peduli anak) yang bergerak di dunia pendidikan pada akhir tahun 2012.

Menurut humas eksternal Novisal Bahar, komunitas ini digagas oleh sejumlah mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada tanggal 1 Desember 2012 dan diresmikan pada 2 Februari 2013.

“Mahasiswa yang menjadi penggiat komunitas ini bernama Amar, Ihsan, Bagus, Siska Ayunda, Eri. Selain itu, untuk inisiatornya bernama Hafid, ” ucap Novisal kepada Acta Surya. Selasa (3/4/2018).

Ia juga menambahkan bahwa memilih fokus ke perihal pendidikan karena melihat dunia pendidikan saat ini masih dinilai belum maksimal. Lanjutnya, masih banyak anak-anak yang belum mendapat ilmu pendidikan dari lingkungan keluarga. Karena menurutnya, keluarga menjadi hal sangat penting untuk memberikan pendidikan di luar jam sekolah.

Agenda rutin yang kerap dilakukan oleh komunitas ini yaitu melaksanakan pembelajaran dan kreatifitas pada waktu tertentu. Selain itu juga aktif melibatkan anak-anak untuk mengikuti berbagai macam lomba.

Suasana kegiatan belajar mengajar anggota Komunitas Gerlik Surabaya di Jalan. Lumumba Dalam no. 71, Ngagel, Wonokromo. 

 

“Untuk agenda rutin kita yaitu tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kita tidak hanya menggelar kegiatan pembelajaran tersebut di indoor, kerap kali dilakukan di outdoor, ” imbuhnya.

Awal terbentuknya komunitas ini, memiliki anggota 30 orang saja. Namun seiring berjalannya waktu, kini telah memiliki anggota hingga ratusan.

Humas bidang pendidikan, Ahmad Ma’ruf mengatakan selama berkegiatan, berbagai respon juga terlontar dari masyarakat sekitar yang telah merasakan adanya komunitas ini.

“Responnya sangat bagus, mereka bilang ini sangat membantu karna orang tuanya sendiri belum tentu bisa membantu belajar karena pelajaran yang bertambah sulit,” katanya.

Pria yang akrab disapa Ahmad ini juga menambahkan, bahwa selama melakukan kegiatan ini tidak hanya mendapat respon yang baik.

“Kita juga pernah dapat respon buruknya, karena banyaknya anak – anak  membuat suasananya ramai, jadi orang tua yang lewat dikira disini tidak belajar hanya main” tambahnya.

Komunitas yang berdiri sejak awal tahun 2013 ini mempunyai harapan tidak hanya memberikan pendidikan atau pelatihan kepada anak-anak, tetapi juga ingin melibatkan orang tuanya. Karena menurutnya pendidikan itu juga diawali dari keluarga. (N/F: Andyan,Odif/Doc. Pribadi)