Resah Kebijakan Dispensasi, Ketua: Kritisi Mereka

Suasana UAS hari kedua di kelas II yang berada di Stikosa-AWS, Selasa (9/7)

Actasurya.com – “Mohon maaf ya, mosok kuliah bondo materai tok, rek (masa kuliah modal materai doang, rek). Di balik dong sekarang, jangan dari sisi kami (akademik), kritisi mereka (mahasiswa dispen),” ucap Ketua Stikosa-AWS, Ismojo Herdono saat diwawancarai di depan ruangannya terkait kebijakan dispensasi 80 persen tanpa sosialisasi, Selasa (9/7).

Kebijakan pembayaran DPP dan SPP jelang UAS dengan wacana minimal pembayaran 80 persen, seakan menjadi bumerang bagi mahasiswa AWS. Sejauh ini, pihak kampus tidak memberikan sosialisasi mengenai info terkait. Mahasiswa mengetahui informasi ini dari karyawan bagian keuangan.

Hal tersebut menimbulkan kegundahan tersendiri bagi mahasiswa. Namun, Ismojo mengatakan, setiap mahasiswa yang masuk AWS telah menandatangani surat persetujuan lunas biaya perkuliahan dalam kurun waktu satu tahun. Biaya perkuliahan yang dimaksud, seperti DPP dan uang SPP.

“Loh, mau tak buka? Malu itu orang tuanya. Semua itu ada surat pernyataan. Ada itu, selesai dalam satu tahun,” kata dia.
Jika mahasiswa tak segera melunasi biaya kuliah, bagaimana kampus menyelesaikan biaya kebutuhan pokok setiap bulannya, seperti tagihan listrik misalnya.
“Bukan gak ada sosialisasi. Maaf ya, setiap semester, yang masuk itu-itu saja orang-orangnya. Tak bukain ta? Ada itu,” tegas dia.

Soal kebijakan dispensasi wajib bayar minimal 80 persen untuk DPP maupun SPP, Kepala Stikosa-AWS yang masa jabatannya berakhir di tahun ini tak menjawab kebenaran dan ketidakbenaran itu.
“Saiki ngene, sampean mau kuliah, bayare keri (sekarang gini, kamu mau kuliah, tapi bayarnya belakangan), tapi sudah mendapatkan fasilitas. Pelajaran dapat. Itu sebenarnya kan kebijakan. Sakjane yo (seharusnya ya)lunas loh, sudah close,” jelas Ismojo.

Sebagai Ketua kampus, dia menyadari jika ada orang tua mahasiswa yang bekerja sebagai tukang las hingga tukang bengkel. Tetapi, Ismojo enggan membuka identitas orang tua, karena tak ingin mahasiswanya malu.
“Setiap semester ada di meja saya. Awake (Ismojo) iki loh loper koran, saya alumni sini, loper koran dolek (cari) utangan. Saya ngomong gini, karena saya rasakan apa yang dirasakan oleh mahasiswa,” tutupnya. (N/F:Est)