Rasa Rekayasa di Pemilu Raya

Rabu (5/10) lalu, warga Stikosa-AWS punya hajat besar dengan menggelar pemilihan ketua. Tak hanya mahasiswa, sejumlah staf dan dosenpun pun ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan empat tahun sekali itu. Dan hasilnya, pemilu raya dimenangkan oleh Aristiana dengan mengantongi 106 suara, disusul Zainal Emka dan Ismoyo Herdono di posisi dua dan ketiga.

Tapi layaknya pemilu presiden dan legislatif, pemilu raya untuk ketua periode 2011 – 2014 pun tak luput dari pro dan kontra. Pro dan kontra muncul ketika salah satu pendukung ketua mempertanyakan beberapa keputusan Pansel (panitia seleksi) yang dianggapnya aneh.

Diantaranya deadline yang semula 15 Agustus, molor sampai 15 September. Dan calon ketua yang semula 4 orang berkembang menjadi 6 orang. Tanggapan bahwa pansel gagal melaksanakan tugasnya dan terkesan plin – plan pun muncul. Salah satu yang mengkriktik keputusan Pansel ini adalah M. Zurqoni, alumnus Stikosa yang juga aktif di Forpro AWS.

Menurutnya, keputusan-keputusan pansel itu terbilang janggal dan sulit untuk dimengerti. “Bagaimana bisa ada calon yang lolos tapi tidak punya visi dan misi yang jelas? Bagaimana juga mekanisme pansel yang meloloskan itu?” sindir mantan dosen Stikosa ini.

Menanggapi hal tersebut, Tjuk suwarsono, Ketua Pansel pun angkat bicara. Ditemui reporter Acta Surya ia mengatakan, Pansel sudah bekerja dengan baik dan sudah melalui prosedur yang ada. Soal bertambahnya calon menurutnya itu untuk lebih memberikan banyak pilihan kepada mahasiswa. “Ya biar banyak pilihan saja, masak pemilhan Rektor hanya diikuti 4 calon.” Ucapnya dengan santai.

Ia menambahkan, Pemilu raya tahun ini lanjutnya tergolong sukses, dari mulai bertambahnya calon sampai konsep pemilu yang sangat matang jauh kalau dibandingkan tahun 2007. “Menurut saya belum ada pemilu model kayak gini, calon bisa langsung berdialog dengan publik. Pemilu presiden pun tidak seperti ini,” imbuhnya.

Tapi ketika reporter Acta Surya menyinggung tentang kenapa sampai saat ini calon yang menang belum dilantik, Tjuk mengatakan tidak tahu menau soal hal itu. “Oh, itu saya tidak tahu, coba tanyakan kepada yang lebih berwenang.” pungkasnya. Senada dengan Pensel, Abdul Wachid, ketua Komisi Pemilu Raya, juga mengatakan pemilu tahun ini tergolong sangat sukses.

Sebelumnya, Pansel dan senat dosen telah memutuskan Ismoyo Herdono sebagai ketua Stikosa-AWS. Keputusan tersebutlah yang membuat mahasiswa gusar. Kejanggalan tersebut sontak menimbulkan pro dan kontra, khususnya di kalangan mahasiswa. Mahasiswa ingin pemilik suara terbanya dalam pemilu, Aristiana ditetapkan sebagai ketua baru. Karena pemilu raya merupakan suara mahasiswa yang dijadikan bahan referensi senat dosen dalam menentukan ketua baru.

Mahasiswa yang tak setuju dengan keputusan pansel menggelar aksi demo di halaman Stikosa-AWS. Namun, ternyata aksi tersebut tak memengaruhi keputusan Pansel untuk menetapkan Ismoyo sebagai ketua Stikosa-AWS yang baru. Puncaknya, besok (29/11) akan diselenggarakan pelantikan Ismoyo Herdono sebagai ketua Stikosa-AWS baru menggantikan Zainal Arifin Emka.

Pemilu raya sendiri pada awalnya berlangsung karena adanya desakan dari mahasiwa yang kala itu dpelopori oleh Afrizal ‘jijay’ akbar. Pada saat itu nadhim selaku ketua Stikosa – AWS ingin melanggengkan kekuasaannya tapi tidak dengan mekanisme pemilu, akhirnya mahsiswa pun melakukan pergerakan agar diadakan pemilu ketua yang adil dan transparan.

(Naskah: Willi, Variz / Foto: Tri Amalya)