Potret Kehidupan Pengrajin Lewat Pameran Fotografi

Para pengunjung mengamati hasil karya foto yang dipamerkan di pendopo Stikosa-AWS, dengan judul “Jalma Baksya” (14/01).

Actasurya.com –  Sebanyak 14 fotografer yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pengemar Fotografi (Himmarfi) menggelar pameran foto jurnalistik di Pendopo Stikosa-AWS, terpampang pula 28 buah karya foto jurnalistik dengan berbagai objek yang dipamerkan di Himmarfi Basic Training (HBT). Pada agenda pameran foto kali ini, mengangkat sisi tentang perkembangan industri kreatif di Jawa Timur.

Pameran yang diselenggarakan mulai tanggal 14-20 Januari 2019 ini, berjudul Jalma Baksya. Arti dari Jalma Baksya sendiri diambil dari bahasa sansekerta yang mempunyai arti orang kreatif. Pun menggambarkan karakteristik  manusia yang ada di bidang industri kreatif. Hal tersebut juga nampak jelas pada foto-foto yang dipamerkan di joglo Stikosa-AWS.

Ketua Pelaksana, Daniel Indrawan menjelaskan, dalam pemilihan judul Jalma Baksya karena sama-sama sedang berproses menjadi anggota muda.  “Setiap sisi foto yang dipamerkan memiliki pesan yang ingin  disampaikan dan setiap foto memiliki arti proses masing-masing, sama seperti kita yang sedang berproses menjadi anggota muda di Himmarfi,” kata Daniel, Senin (14/1).

Objek yang dipilih pun merupakan industri yang berbeda dan inovatif.  Mulai dari alat untuk proses industrinya, maupun bahan-bahan yang dipilih berbeda dari industri kreatif lainnya.

“Seperti  pendaur ulang sampah, eceng gondok yang dibuat menjadi aneka kerajinan yang menarik, daur ulang popok bayi,” ujarnya.

Berbagai daerah di Jawa Timur pun menjadi target wilayah Daniel untuk membidik karyanya. Diantaranya kota Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Tuban, Malang, Gresik dan Madura.

“Kami tidak membatasi objek ataupun kota yang ingin diambil oleh anggota, lagipula ada salah satu anggota yang sedang di luar kota, jadi mereka mengambil foto tentang industri kreatif disana,” jelas mahasiswa angkatan 2018.

Sementara itu, Clara Asdridmida Aprodid Octavia, salah satu fotografer dan satu-satunya pemotret yang mengambil foto di Kota Tuban. Dengan alasan biar bisa mengeksplor di luar kota.

“Biar bisa banyak mengeksplore dan kebetulan pulang ke kampung halaman. Memanfaatkan moment juga, karena banyak tempat-tempat bagus yang orang-orang banyak yang tidak tahu,” pungkasnya.

Dalam pembukaan event pameran HBT tersebut turut dimeriahkan oleh Teater Lingkar, ada juga sesi diskusi foto bersama fotografer Adven Wicaksono. (N/F: alf,est)