Perjuangan Era Orde Baru

Sepak terjangnya dalam dunia jurnalistik memang perlu diakui. Tempo, Prospek dan Gatra pernah ditunggangi untuk memacu goresan tintanya.

Heri Muhammad memiliki kecintaan yang besar dalam berorganisasi, hal tersebut menjadi bekalnya terjun dalam dunia kerja. Seperti turut berkecimpung dalam keredaksionalan LPM Akademika Universitas Sunan Giri, menjadi pengurus badan komunikasi masjid Al-Falah dan menjadi pemrakarsa berdirinya Yayasan Dana Sosial pada tahun 1986.
Awal karir kewartawanan pria asli Sepanjang, Sidoarjo ini dimulai tahun 1987. Ia menjadi wartawan majalah tempo selama tiga tahun, yaitu sampai saat dibredelnya majalah politik itu ditahun 1990, karena kasus pembongkaran rahasia Negara yang dilakukannya.
“Saat Tempo dibredel, banyak wartawan yang keluar, termasuk juga saya didalamnya. Hanya tersisa kurang dari 40 persen keseluruhan jumlah wartawan yang ada,” Tutur pria 49 tahun tersebut.
Kemudian para wartawan yang keluar dari majalah Tempo tersebut berkumpul dan mendirikan media baru yang diberi nama Prospek, majalah ekonomi. “Prospek tidak bertahan lama, hanya empat tahun kita berdiri. Kemudian berhenti berproduksi karena kendala dana,” Ungkap pria berperawakan tegap ini.
Perjuangannya menjadi wartawan di era orde baru tidaklah mudah. Menurutnya wartawan kala itu penuh kerja keras dan rintangan dalam tugas peliputannya. “Wartawan orde baru tidak bisa seenaknya dalam mencari berita. Semuanya diatur, ada list tentang hal apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh, terutama jika pemberitaannya menyinggung keluarga Soeharto,” Imbuhnya.
“Kita harus pandai-pandai mensiasati hal-hal seperti ini. Banyak cara yang dapat dilakukan, Seperti menyinggung permasalahan utama lewat masalah-masalah pendukung, permainan kata dan kalimat dalam penulisan, terus memperbaiki dan berusaha selangkah lebih maju,” Jelas Pria kelahiran Surabaya, 7 Mei 1960 tersebut.
Setelah gagal bersama Prospek, kemudian ia dan kawan-kawan mendirikan Majalah Gatra tahun 1994. Kini ia telah menduduki jabatan kursi Redaktur Pelaksana. Dalam meraih jabatan yang disandangnya kini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus melalui berbagai tahapan kerja. (naskah: Subagus Indra P. / Foto: Dhimas Prasaja)