Pasar Krempyeng, Unik tapi Penuh Risiko

actasurya.com – Di tengah besarnya Kota Surabaya, ternyata terdapat pasar yang cukup unik. Pasar ini biasanya disebut Pasar Krempyeng. Pasar itu terletak di Dupak Magersari, Surabaya, seberang pintu masuk utara Pusat Grosir Surabaya (PGS).

Jika dilihat sekilas, mungkin terlihat seperti pasar tradisional pada umumnya yang menjual buah-buahan, sayuran dan berbagai jenis ikan. Bau amis yang melekat pada pasar tradisional biasanya pun juga tercium di sini. Suara tawar-menawar ramai terdengar antara pedagang dan pembeli.

Uniknya, lokasi pasar ini sangat dekat dengan jalur kereta api. Jalur kereta api ini terbagi menjadi jalur kereta api timur dan barat. Di mana Pasar Krempyeng ini terletak di jalur kereta api bagian timur. Ketika suara alarm kereta berbunyi, pedagang menyelamatkan diri. Tak lupa mereka memindahkan barang dagangannya agar tidak terserempet kereta. Pembeli yang berada dekat dengan jalur kereta tersebut pun ikut menjauh.

“Selama ini tidak ada kecelakaan yang terjadi. Orang-orang harus menjaga diri dengan benar,” ujar Matukri, petugas kebersihan dan keamanan di Pasar Krempyeng.

Pria paruh baya ini memang bukan petugas resmi. Ia hanya seorang warga Magersari biasa yang aktif menjaga Pasar Krempyeng. “Timur, timur. Ayo mengger, buk. Awas, ojok nang tengah rel sepur.“ Begitulah Mison, sapaan yang biasa diberikan pedagang terhadap Matukri, saat memperingatkan pedagang dan pembeli ketika kereta lewat.

Bisa dibilang cukup unik, tapi juga penuh risiko. Pasalnya, jalur kereta ini masih aktif digunakan, dan tidak terdapat petugas resmi. Beruntung masih ada Mison yang rela menjaga pasar ini. Beberapa pedagang bahkan sempat mengabaikan teriakan Mison. Mereka tidak menghiraukan keselamatannya, walaupun jarak mereka dengan kereta begitu dekat.

Meski terbilang cukup unik, pedagang yang berjualan di Pasar Krempyeng relatif sedikit dengan jumlah 15 – 20 pedagang. Awalnya, tahun 1972, jumlah pedagang di sini sebanyak 150 orang. Sekarang, jumlah pedagang di sini tidak sampai seperempat dari jumlah pedagang di awal.

Pengurangan itu terjadi semenjak kejadian Pasar Turi di lokasi lama mengalami kebakaran. Kebakaran itu berefek pada jumlah pembeli Pasar Krempyeng karena letak lokasinya yang bersebelahan.

“Aku sudah berjualan di sini selama 35 tahun, mbak. Dulu di sini ramai, tapi pas kebakaran di Pasar Turi, pasar jadi sepi,” ungkap Ali Arifin, pedagang buah dan rempah-rempah.

Perempuan berusia 58 tahun ini juga bercerita mengenai sepinya pembeli sekarang, dibandingkan saat sebelum terjadinya peristiwa kebakaran. Dulu ia bisa pulang pukul 11.00 WIB karena banyaknya pembeli. Sekarang ia selalu pulang pukul 09.00 WIB karena sepi pembeli.

Meski kehilangan banyak pelanggan semenjak peristiwa kebakaran, ada beberapa pelanggan yang masih setia dengan Pasar Krempyeng. Salah satunya adalah Sutiani, perempuan asal Madura tersebut masih setia berbelanja di pasar ini.

“Ya, aku belanja di sini soalnya dekat sama rumah. Harganya juga lebih murah dibanding pasar lain,” terang Sutiani saat ditemui setelah membeli rempah-rempah pada Ali Arifin. (N/F : Hakim, Odif)