Orang Tua, Fotografi, Setelah Itu Prestasi

Mamuk Ismuntoro
Orang Tua, Fotografi, Setelah Itu Prestasi

Segudang prestasi pernah diraih. Bahkan, siapa sangka alumni Stikosa-AWS ini berhasil raih penghargaan di lomba foto Internasional yang diikuti sekitar 18 negara itu. Yakni juara II International Photo Competition (IPC) 2009.

Itulah sekilas gambaran siapa Mamuk Ismuntoro. Buah prestasinya, pada ActaSurya alumni Stikosa-AWS angkatan 1994 ini mengatakan, semua adalah berkat arahan dan dukungan dari ayahnya Soekan dan almarhum ibunya Sudarsih.

Menurut suami dari Haryati ini, Berkat arahan dari sang ayah Soekan dan dorongan ibu Sudarsih (Alm), pria bertubuh kurus ini bisa menjadi seorang fotografer handal dengan pengalamannya yang segudang.

Sebelum terjun di dunia fotografi, Mamuk punya keinginan menjadi seorang pegawai negeri atau pemain sepak bola. Kalau ingin jadi pemain sepak bola karena waktu dia tak ada minat untuk kuliah.

“Tidak ada niatan untuk kuliah sebenarnya, tapi saat itu orang tua saya menyuruh saya untuk kuliah, dan mumpung orang tua masih bisa membiayai. Ya tidak sia-siakan kesempatan ini,” ungkap bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Tapi kepasrahannya untuk menjalankan kuliah dan meninggalkan cita-citanya kini berbuah manis. Segudang pengalaman dan prestasi telah diraihnya. Bahkan kini bapak satu anak ini, diangkat sebagai Dosen Komunikasi Fotografi dialmamaternya sendiri, Stikosa-AWS.

Keahliannya dalam dunia fotografi memang tak luput dari hasil ketekunan dan kesabarannya selama ini untuk tak henti-hentinya berlatih. Memang sejak menempuh studinya di Stikosa AWS, pria berkaca mata ini dikenal sebagai sosok yang pantang menyerah untuk belajar.

“Saya lebih banyak belajar memotret dengan memotret. Begitu bisa, walaupun sedikit sekali bisanya nekat aja motret,” ungkap mantan fotografer Majalah Mossaik Suara Surabaya itu.

Banyak orang menyebut bahwa keahliannya dalam dunia fotografi berasal dari bakat yang dimilikinya. Tapi dari dalam benak redaktur fotografi Hari Surabaya Post, menepis jika ada yang menilainya seperti itu. “Bakat hanyalah sekian persen, tapi tanpa berlatih saya rasa hasilnya juga berbeda,” tegas pria yang pernah belajar jadi fotografer di LPM ActaSurya ini.

Bicara tentang awal mula dirinya kenal dunia fotografi, bermula dari ketertarikkannya pada seni visual berawal sejak dirinya masih duduk dibangku Menengah Pertama dan Atas. Ia menceritakan waktu itu saya bertanya, bagaimana bisa membuat dan mendapatkan foto-foto yang bagus. Tapi sayang, saat itu tidak ada jawaban. Karena memang saya belum mengenal fotografi.

”Lalu saya masuk AWS dan bergabung dengan Himmarfi, saya menjadi tahu bagaimana foto itu bisa tercipta,” tutur ayah dari Ariij Mahayati Ismuntoro ini.

Ketika hasil karyanya menumpuk, lalu Mamuk berinisiatif untuk mendokumentasikannya dalam bentuk blog. Saat itu dirinya masih di Mossaik (salah satu produk radio SS surabaya) sekitar tahun 2006. Di kantor, akses internet cukup mendukung. Lahirlah sebuah keinginan bikin blog pribadi. Bernama MATANESIA, dari singkatan mata Indonesia.

Dengan bantuan teman-teman AWS juga, saat ini Matanesia sedang berkembang. ”Semoga Matanesia bisa menjadi website photo provider seperti Reuters,” harap mantan Dosen tidak tetap di Universitas Petra ini.

Dari situlah, yang ada dipikirannya memotret bagus, lalu selesai. Tapi seiring jalannya waktu, dari hasil jepretannya berharap bisa menghasilkan uang. ”Bahkan untuk mencari pekerjaan, dari sekian banyak lowongan, seperti waktu itu dirinya melamar di Radar Surabaya tahun 1999, saya tidak menggunakan ijazah saya. Yang saya tunjukkan waktu itu adalah karya saya,” kenang penggemar film drama ini. (naskah: Lyna C./foto: Dok. Mamuk)