Odie: Surabaya Tidak Asing Lagi Bagi Project Pop

Surabaya bukanlah kota yang asing lagi bagi grup vocal Project Pop. Kurang lebih selama dua tahun, grup vocal asal bandung ini selalu bolak-balik Bandung-Surabaya untuk mengisi acara sebuah stasiun televisi, yang saat itu masih bertempat di kota Pahlawan.

“Dulu, sekitar tahun 1996, waktu kita masih ngisi acara di SCTV, setiap seminggu sekali kita pasti ke Surabaya, kan dulu studionya ada di Surabaya,” kata Odie salah satu personil Project Pop.
“Yang paling kita kangenin dari Surabaya itu soto yang ada di jalan Semeru. Setiap sampai di Surabaya, tempat pertama yang kita datingin ya warung soto jalan Semeru,” tutur Oon personil Project Pop yang bertubuh besar.
Project Pop dikenal dengan music-musik parodinya. Lagu-lagu mereka seperti Dangdut is the music of my country, bukan superstar, jangan ganggu banci, pacarku superstar, metal versus dugem dan masih banyak yang lainnya, tak jarang dapat mengocok perut setiap pendengarnya.
Dalam proses penciptaan music, mereka kebanyakan diilhami dari aktifitas sehari-hari. “Kebanyakan yang sering buat lagu itu si Yossi, diantara kita memang dia yang paling kreatif. Jadi setiap ada kejadian unik, langsung ditulis, akhirnya jadi lagu deh. Terus buat musiknya juga asal-asalan, Cuma kita punya arranger yang tahu setiap yang kita inginkan tentang music kita,” ungkap odie.
Bila menengok personil Project Pop yang berjumlah enam orang ini. Tak banyak orang tahu siapa nama lengkap para penunggang grup vocal beraliran parodi ini, diantaranya ada Kartika Rachel Setia Rejeki Panggabean (Tika), Wahyu Rudi Astadi (Odie), Djoni Permato (Udjo), Mochammad Fachroni (Oon), Hermann Josis Makallu (Yossi) dan Gumilar Nurrochman (Gugum).
Masa sulit maupun senang ernah rasakan dalam perjalanan karinya selama 13 tahun mereka berdiri. “Yang paling berkesan tentang masa sulit kita itu, kita pernah manggung didepan 14 penonton saja. Kita mah asyik aja, jadi kita main (bernyanyi) kayak latihan,” ujar odie sambil tertawa.
Memang pada 1997, beriringan dengan krisis moneter yang melanda negeri ini, tak melewatkan Project Pop dari jurang kesulitan ekonomi para personilnya. “Waktu itu kita sempet ngamen bareng buat nyambung hidup kita mas. Tuntutan hidup waktu itu juga susah, apa-apa mahal, jadi kita harus kreatif,” jelasnya.
Sekarang berkat kerja keras dan totaslitasnya, banyak fasilitas mewah dapat mereka nikmati. “Kita nggak pernah nyangka kalau sekarang kita sudah bisa nggunain fasilitas-fasilitas mewah, dulu semuanya serba terbatas, sekarang kita bisa nginap di hotel mewah sekelas hotel JW Mariot,” aku bapak dua anak ini.
Diakhir wawancara mereka berpesan untuk generasi muda agar lebih total dalam berkreasi. “Anak muda sekarang yang dipikirin Cuma uang, mereka kurang total dalam berekspresi. Seharusnya mereka lebih focus dalam berkarya, itu saja.” Subagus Indra