Nongkrong Ala Penggemar Game

Dua meja itu dipenuhi kartu. Kursi di sekelilingnya diisi orang-orang yang larut dalam serunya permainan. Kadang diselingi tawa kemenangan atau makian kekesalan. Mereka bukan sekadar bermain domino atau remi. Hidung dan telinga mereka tidak diikat jepit jemuran. Wajah mereka tidak belepotan tepung. Dan tempat nongkrong mereka bukan di pos ronda.

Orang-orang itu adalah anggota komunitas kartu Vandaria Wars. Permainan kartu ini tercatat dalam rekor MURI sebagai collectible card game pertama yang asli buatan orang Indonesia. Para pemain berkompetisi menjadi penguasa tunggal di dunia Vandaria. Bisa dengan membangun benteng dan kota, menyewa pasukan, menggunakan teknologi, atau memanfaatkan kekuatan magis dan alam. Seperti yang tertulis dalam gamequarters.net, Vandaria Wars mengambil setting dari dunia Vandari Saga. Pemain dapat berinteraksi dengan human ataupun frameless.

Tetapi interaksi antarpemain yang duduk berhadap-hadapan mengelilingi meja itu, adalah nyata. Di depan cineplex 21 Royal Plaza Surabaya, para anggota komunitas itu biasa bertemu dan berkumpul. Tiap Sabtu dan Minggu pukul 13.00, mereka berkompetisi dalam weekly tournament. Tempat berkumpulnya tidak besar, hanya terdapat satu meja kasir dan dua meja permainan. Juga kursi-kursi serta etalase berisi kaset game maupun aksesoris buat para gamer.

Warlord, nama tempat itu, memang mengklain diri sebagai game community center. Selain menyediakan ruang bagi para penggemar Vandaria Wars, Warlord juga merupakan game shop. Beragam kartu, kaset, sampai peralatan game tersedia di sana. “Kita terbuka bagi siapa saja. Yang mau beli silakan. Mau main juga silakan. Bahkan yang mau belajar pun boleh,” kata Nanang, penjaga Warlord yang juga merangkap sebagai guru Vandaria Wars.

Ia menegaskan pengunjung Warlord tidak akan dikenakan biaya untuk main kartu maupun belajar. Hanya saja, untuk mengikuti turnamen mereka harus bayar Rp 15 ribu. Itu sudah termasuk perlengkapan main. Hadiahnya, satu set kartu Vandaria Wars. “Tiap tiga bulan sekali Vandaria Wars biasanya ekspansi. Kalau ada boks baru, itulah yang dijadikan hadiah buat pemenang turnamen,” tutur Nanang.

Warlord sendiri berdiri sejak lama, pemrakarsanya adalah GameQuarters (GQ). Tetapi ruang terbuka untuk penggemar Vandaria Wars baru disediakan setahun terakhir. Pengunjungnya langsung ramai, terutama hari-hari saat ada turnamen. Menurut Nanang, penggemar permainan kartu ini beragam usianya. Namun, yang sering datang ke Warlord sekitar usia 13 tahun ke atas.

Nathan adalah salah satu pengunjung setia tempat itu. Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Surabaya (Ubaya) ini awalnya suka bermain kartu di Pakuwon Trade Center (PTC). Namun sejak komunitas Vandarian Wars dibuka di Warlord, ia memilih main di sana.

“Di PTC jadi satu dengan warnet, kalau di sini kan ada tempat khusus. Lagian enak, lebih dekat,” ujarnya. Nathan mengakui, dari hobinya bermain kartu dan ikut turnamen dalam komunitas itu, ia jadi kenal lebih banyak orang. “Teman-teman main sejak SMA banyak, tapi dari komunitas ini jadi kenal lebih banyak lagi,” lanjutnya. (N/F: Rizky Sekar)