Ernawati, Sang Pengrajin Batik Mojokerto
Julukan sebagai kota sentra budaya seperti Mojokerto, membawa konsekuensi tersendiri. Selain harus menonjol dalam hal perkembangan budaya, semua yang khas dari kota ini pun harus tampil ke permukaan.
Seperti dalam hal cindera mata, misalnya. Tidak sedikit orang bertanya, apa buah tangan khas Mojokerto? Ernawati salah satu warga Mojokerto yang "terganggu" dengan hal itu. Berbekal bakat menggambar dan membatik yang dimilikinya sejak kecil, perempuan asli Mojokerto itu ingin memunculkan kembali kekhasan kota asalnya. "Akhirnya, corak Mojo ini pilihannya," kata perempuan yang akrab dipanggil Erna itu.
Ketertarikan perempuan pengrajin batik tulis Mojokerto di dunia batik-membatik, berawal dari seringnya Erna mendampingi sang ibu, Karmu’ah saat membatik. Dengan tekun, Erna muda melihat ibunya yang kini berusia 55 tahun itu menggoreskan canting. Entah mengapa, ada dorongan dari dalam diri Erna untuk mulai belajar menggambar.
Tidak berhenti disitu, untuk menambah ilmu, Erna mulai menggambar di atas kain putih. Singkat kata, Erna pun mulai berani menggoreskan malam panas dalam canting di atas sehelai kain putih yang sudah bermotif. Jadilah beberapa karya batik khas Mojokerto.


Tak berhenti sampai di situ, Erna juga berguru kepada ibunya mengenai pengolahan lanjutan. Seperti pewarnaan, pencucian, hingga penjemuran. Biasanya, kain batik di jemur di tempat yang teduh dan berangin. Dirasa karyanya cukup baik, Erna mulai menawarkan batik miliknya ke beberapa konsumen. "Responnya pun cukup lumayan," kata Erna.***
(Naskah: Andrian Saputri/M.Ridlo’I / Foto: Wahyu Triatmojo)
- Printer-friendly version
- Login to post comments




