Pameran komik “Resistenci Comic”

29-31 Maret 2008 Café Toko Buku Togamas (Qor-B) Royal Plasa, Surabaya.

Designing World Class Business in Supply Chain

26 Maret 2008 : 08.00-15.00 Hotel Shangri-La Surabaya.

Pameran Lukisan Di Galeri Surabaya

17-24 Februari 2008: "Art Possible". 25 Feb-1 Maret 2008: "Semangat"

Pameran Fotografi - Antropologi Menjadi Orang Samin Saat Ini

26 Februari-11 Maret 2008. Galeri CCCL Surabaya.

Pameran ilmiah Resiko Gempa, Apa ya?

12-23 Februari 2008 di Galeri CCCL Surabaya.

Penyucian Diri dalam Jalanidhipuja

Pantai Balekambang, 27 Februari 2008.

Kirab Pusaka di Hari Jadi Pacitan

Alun-alun Kota Pacitan, 19 Februari 2008.


User login

Welcome, Guest.
Please login or register.

Ritus Tradisional, Mitos, dan Hiburan Rakyat

Oleh : Agung Purwantara

Ritus atau ritual tradisi bagi sebagian masyarakat kita menempati posisi yang penting dari ritus hidup lainnya. Ambil contoh ritus sungkem kepada orang tua ketika usai puasa Rhomadhon atau pada perayaan hari raya Idul Fitri (bagi orang Islam di Indonesia khususnya di Jawa).

Begitu pentingnya acara ini sampai-sampai negara memberikan kelonggaran dengan libur besar selama seminggu. Fasilitas transportasi disiapkan sedemikian hingga mengeluarkan kendaraan cadangan dari gudang-gudang perusahaan transportasi.

Sampai sampai kendaraan TNI pun ikut memberikan bantuan untuk mengangkut pemudik (orang yang pulang ke udik untuk berlebaran). Pada hari itu, jumlah rupiah yang berputar tentunya tidaklah sedikit. Uang mengalir dari kota ke desa sebesar biaya dan tabungan yang akan dibawa ke desa.

Contoh lagi, ketika hari raya Imlek. Orang-orang keturunan Thionghoa, mengadakan pesta dan doa-doa yang membutuhkan peralatan yang tentunya tidak cukup dengan beberapa rupiah saja. Belum lagi, kepercayaan jika hujan akan terus-menerus turun itu pertanda bahwa rejeki mereka akan tercurah terus-menerus seperti hujan. Mereka akan bergembira jika hujan datang. Mitos yang hubungannya dengan rupiah.

Pun dengan orang Jawa. Bila bulan Suro (tahun baru Jawa yang bersamaan dengan Tahun baru Islam) datang mereka akan mengadakan ritual-ritual tertentu. Ada yang melaksanakan mandi pada malam 1 Suro. Ada yang berpuasa. Ada yang mencuci pusaka. Ada yang tidak tidur dan berjalan-jalan sampai pagi. Ada yang selamatan. Dan lain sebagainya.

Kemudian ada beberapa upacara adat di berbagai daerah yang ternyata dalam pelaksanaannya memakan biaya yang tidak sedikit. Lalu kenapa masyarakat yang memegang teguh tradisi itu masih melakukannya? Jawabnya pasti, karena mereka melaksanakan tradisi warisan leluhurnya. Dengan kepercayaan, jika mereka tidak melakukannya, mereka akan mendapatkan keburukan atau murka dari leluhur mereka. Jika mereka melakukannya, tentu dengan harapan akan mendapat kebaikan-kebaikan yang mereka percayai. Meski dengan biaya tinggi. Kalau dicermati, efek samping dari pelaksanaan ritus-ritus tersebut adalah entertain atau hiburan.

Coba anda cermati ilustrasi dari sebuah artikel berita di Republika; Pengunjung Upacara Mandi Sedudo Sepi Dari tahun ke tahun animo masyarakat untuk mengikuti upacara ritual mandi sedudo, di air terjun Sedudo, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk terus menurun. Jika sekitar tiga atau empat tahun lalu pengunjung selalu membludak saat digelar upacara ritual, kini pengunjung hanya ratusan. Bahkan yang hadir lebih banyak undangan para pejabat. Kenyataan itu terlihat, pada upacara ritual yang digelar Pemkab Nganjuk, Rabu (7/7). Upacara ritual yang dihadiri Bupati Nganjuk Ir Siti Nurhayati bersama Muspida tersebut hanya dikunjungi sekitar 200-an orang. Sepinya pengunjung itu dikeluhkan para pedagang yang biasa berjualan di kawasan wisata di lereng gunung Wilis tersebut. Karena dengan sedikitnya pengunjung, dagangan mereka banyak yang tidak laku. ''Kalau tahun-tahun lalu, upacara seperti ini pengunjung selalu membludak. Sekarang kok yang datang bisa dihitung. Apakah masyarakat sudah tidak lagi tertarik dengan wisata Sedudo,'' ujar Slamet, salah seorang penjual jagung bakar di lokasi tersebut. Ia menuturkan, dengan sepinya pengunjung itu, jagung bakar daganganya tidak laku. ''Lihat sendiri mas. Ini jagung masuh numpuk. Hanya laku beberapa biji saja,'' keluh Slamet. Beberapa kalangan menyebutkan, sepinya pengunjung itu disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya, dahulu upcara ritual untuk mendatangkan wisatawan ini digelar pada tanggal 1 Syuro. Sesuai dengan kepercayaan masyarakat, jika mandi di air terjun Sedudo pada tanggal 1 Syuro ini akan mendatangkan keberuntungan. Tetapi saat ini, Pemkab menggelar upacara setiap tanggal 7 Juli, disesuaikan dengan kalender wisata Jatim. ''Sejak dulu mandi Sedudo berkaitan dengan kepercayaan masyarakat, yaitu tanggal sakral 1 Syuro. Kalau sekarang upacara dialihkan tiap tanggal 7 Juli sesuai kalender wisata Jatim, berarti nilai sakral itu sudah tidak ada. Ini menyangkut kepercayaan masyarakat yang sulit dihilangkan. Makanya kalau upacara ini tetap dilangsungkan setiap tanggal 7 Juli, akan sepi pengunjung,'' ujar Sunar, staf Humas Pemkab Nganjuk. Selain menyangkut kepercayaan, sepinya pengunjung itu akibat kondisi alam kawasan Sedudo yang selalu dilanda tanah longsor. Ini diakui oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Nganjuk, Drs H Abdul Gafur. Seperti kita ketahui, sejak beberapa tahun terakhir, kawasan Sedudo selalu dilanda tanah longsor. Akibatnya, banyak wisatawan yang masih takut datang. Padahal kenyataanya sekarang sudah aman. Bupati Ir Siti Nurhayati menjelaskan, Pemkab akan terus berupaya mendongkrak kunjungan wisatawan ke kawasan Wisata Sedudo. Cara itu ditempuh dengan membangun sejumlah parasarana. ''Kami setiap tahun menganggarkan dana sekitar Rp 1 miliar. Dengan dana ini kami berharap pembangunan wisata akan terus berkembang. Terus terang, kawasan Sedudo merupakan andalan obyek wisata Kabupaten Nganjuk. Soal menurunnya kunjungan wisata di tempat ini, lambat laun akan naik kembali, bersamaan dengan pembangunan sejumlah prasarana, seperti pembangunan pasar wisata,'' ujar bupati. (juwair) Kamis, 08 Juli 2004 © 2006 Hak Cipta oleh Republika Online

Tentang Sedudo
Air terjun Sedudo terletak di Desa Ngliman Kec. Sawahan. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan Ibu Kota Kab. Nganjuk. Udaranya bersih dan sejuk. Terletak pada ketinggian 1438 m dpl. Ketinggian iar terjun ini sekitar 105 meter. Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada setiap Bulan Suro.

Konon mitos yang ada sejak jaman Mojopahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut. Sebab pada bulan itulah, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual yaiu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda. Hingga sekarang pihak Permkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual mandi Sedudo setiap bulan Suro. Bagi pengunjung sudah disediakan fasilitas ruang ganti pakaian, kamar mandi /wc , tempat penjualan makanan . pakaian, buah-buahan dan souvenir.

Keberadaan Sedudo sebagai sebuah tempat yang dipercaya mempunyai kekeramatan diperkuat dengan keberadaan makam Kyai Ageng Ngaliman di Desa Ngliman. Konon, Sedudo menjadi tempat berlatihnya para prajurit Mataram. Dan Kyai Ageng Ngaliman adalah tokoh pemimpin spiritual dan penggembleng kesaktian di sana. Selain Sedudo, ada sebuah tempat yang menjadi pertapaan dari Kyai Ageng Ngaliman terletak arah timur dari Sedudo di atas air terjun Singokromo. Tempat ini memiliki pengunjung sendiri. Bagi para wisatawan spiritual, Makam Kyai Ageng Ngaliman, Sedudo, dan pertapaan Sedepok menjadi tempat yang sangat penting dan berhubungan. Untuk menuju pertapaan, orang akan singgah ke makam, kemudian ke Sedudo untuk membersihkan diri, kemudian naik ke pertapaan. Begitulah.

Nah, ketika mencermati keadaan Sedudo yang sepi pengunjung kita akan memperoleh kenyataan. Pertama, Sedudo sepi setelah tanggal ritual sakral pengunjung Sedudo yang seharusnya 1 Suro menjadi tanggal 7 Juli. Kedua, bencana longsor membuat pengunjung takut datang. Ketiga, Pemkab Nganjuk menyiapkan dana 1 miliar untuk pembangunan kawasan wisata itu.

Ternyata, mitos dan ritus tradisional masih begitu melekat pada sebagian besar masyarakat kita. Masyarakat tradisional tidak begitu terhalang dengan besarnya biaya untuk melakukan ritus mereka. Karena mereka berpikir itu adalah bagian dari ibadah mereka atau bagian dari pelaksanaan dan penjagaan peninggalan leluhur, mereka ikhlas melakukan itu. Mereka tidak membutuhkan campur tangan pemerintah dalam pelaksanaan ritus mereka.

Belajar dari kasus Sedudo, seharusnya dinas pariwisata bisa memanfaatkan ritus tradisional yang ada di masyarakatnya sebagai aset pariwisata. Dengan promosi yang tepat dan pengembangan yang terarah bukannya tidak mungkin aset itu akan mendatangkan rupiah untuk APBD. Karena ritus tradisi dan mitos itu melekat pada masyarakat, sangatlah ceroboh jika pemerintah dengan serta-merta menghapus atau mengalihkan waktu-waktu sakral yang berlaku pada masyarakatnya. Hasilnya akan kontra produktif, bukannya rupiah yang akan diraih oleh bidang pariwisata, alih-alih kerugian maupun protes dari masyarakat yang akan dituai.

*) Penulis adalah alumni Stikosa AWS, kini aktif sebagai designer grafis, penulis, dan budayawan.

Pers Kita dan Sejumlah Pekerjaan Rumah

Setelah Orde Baru, Indonesia tercatat di organisasi-organisasi internasional yang bergerak di bidang advokasi kebebasan pers dan berekspresi, dengan nilai positif.



Topeng Malang
Tari Topeng Malang merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran. Klik disini untuk melihat foto-foto Topeng Malang atau foto-foto lainnya hasil jelajah fotografer Actasurya :


Poll


Alamat Redaksi

Acta Media Komunika (AMK)

Kampus Stikosa-AWS

Jl. Nginden Intan Timur I/18 Surabaya

Telp: 03171388970

Mobile: 081615434133


Iklan

Telp: 03177380553

actasuryamedia@yahoo.com


Coba