Menguak Peradaban Pulau 1000 Benteng

Prapala Road to Civilization Button Island
Menguak Peradaban Pulau 1000 Benteng

Pulau Buton menyimpan banyak sisa peradaban kuno. Seperti benteng-benteng pertahanan kerajaan dan tempat yang lainnya. Namun keberagaman artefak tersebut belum diexpose banyak orang. Hal tersebut yang menggelitik UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Prapala (Prapanca Pecinta Alam) Stikosa-AWS menjadikan pulau yang dijuluki pulau 1000 benteng tersebut sebagai tujuan tempat penggarapan tugas akhir angkatan mudanya.

`Acara yang dilaksanakan 5-25 Agustus lalu tersebut tidak hanya berlabuh di pulau Buton saja. tapi, sebelumnya rombongan juga sempat singgah di kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. “Perjalanan membutuhkan waktu tiga hari dua malam, ditempuh menggunakan kapal laut. Disana kita juga dibantu keluarga prapala angkatan 1999 yang memang menetap disana,” Ujar Laurencius Monday selaku ketua umum Prapala.
“Dari browsing Internet kita punya tiga opsi tempat, ada Jawa, Sumatra dan Sulawesi. Jawa memang punya banyak tempat, tapi kebanyakan sudah banyak orang yang tahu. Jadi, kita pilih Sulawesi Tenggara khususnya pulau Buton untuk kita kupas peradabannya, karena banyak tempat disana yang perlu dikenalkan,” Jelas mahasiswa yang akrab disapa Olen ini.
“Ini memang program kerja Prapala setiap tahunnya, tujuannya untuk tugas akhir angkatan muda sebelum naik tingkat menjadi angkatan biasa,” imbuhnya.
Prapala memfokuskan pembuatan tugas akhir angkatan mudanya pada bidang jurnalistik, linier dengan basic ilmu yang diajarkan Stikosa-AWS. “Semuanya kita dasarkan pada ilmu jurnalistik. Ada tulis, fotografi dan video recording,” tukasnya.
Unit kegiatan para pecinta alam tersebut memberangkatkan tiga angkatan mudanya, Prestiandini Adila (Cebong), Rory Nurmawati (Corong) dan Fajar Rulianto (Lepek). Disana mereka dibimbing tiga senior yang kompeten pada bidang fotografi, tulis dan video recording. Yudi Dwi Anggoro (Gombal), Dian Kurniawan (Semprong) dan Laurencius Monday (Letheg).
Kegiatan yang berlangsung tak selalu berjalan mulus. Disana tim dipersulit dengan sistem birokrasi yang berjalan. “Kendala kita hanya berada sistem birokrasi, seperti perizinan dan lain-lain,” paparnya.
Rencananya dari acara Prapala road to civilitation Button island ini, Oktober akan diselenggarakan acara lanjutan untuk menunujukan hasil petualangannya di Sulawesi Tenggara. “Mungkin kita juga akan mengundang perwakilan dari disparta, karena selain memperkenalkan tempat-tempat baru di Sulawesi Tenggara yang berpotensi menjadi tempat wisata, kita nanti juga ingin sharing budaya,” ulas pemilik rambut gimbal tersebut. (Naskah: Subagus Indra P./Foto: Yudi “Gombal” Prapala)