Malam Sastra Teater Lingkar 2018: Berbicara Tentang Manusia

Actasurya.com – Bertemakan “Berbicara Tentang Manusia”, Teater Lingkar Stikosa-AWS kembali menggelar Malam Satra pada Sabtu (20/10). Acara yang dibuka di Pendopo Stikosa-AWS lalu berlanjut ke ruang kelas V dan VI. Gelaran ini menampilkan lima karya utama yaitu Mamasura Kota,  armastus Surma,  Monolog Asu,  Tari Kontemporer Srikandi dan Tari Teatrikal Upah Jiwa.

Mamasura Kota yang menjadi penampil pertama sekaligus pembuka dalam gelaran malam sastra ini, mengangkat cerita tentang kehidupan manusia yang egois pada sesamanya. Digambarkan dengan para lakon saling berjalan dan menabrak satu sama lain tanpa peduli dan tegur sapa. Adegan-adegan yang melambangkan sifat egois manusia lalu mendapatkan gemuruh tepuk tangan penonton yang hadir

Penampilan yang dilanjutkan di ruang V dan VI Stikosa-AWS kemudian menampilkan Tari Kontemporer Srikandi yang dibawakan oleh lima penari. Acara terus berlanjut ke pementasan Monolog Asu oleh Benedictus “Genjreng” Marco yang bercerita tentang seseorang yang ingin merasakan menjadi asu atau anjing peliharaannya. Ia ingin merasakan sulitnya menjadi binatang.

“Fokus latihan lima hari sebelum tampil. Yang lama adalah mendalami naskahnya dan susahnya mendalami karakter sebagai majikan seekor anjing,” ujar Genjreng.

Salah Satu penampilan teater lingkar di Malam Sastra (20/10) yang berjudul Mamasura Kota yang disutradarai oleh Mangku “Mawut” Rachmat.

Lalu penampilan selanjutnya berjudul Armastus Surma yang menceritakan tentang kekuatan cinta. ”Armastus Surma artinya menyayangi dan mencintai sampai mati. Kalau kita mencintai, sampai tua selamanya akan tetap mencintai,” ujar Noval “Dupo” Aldrian, sang sutradara.  Armastus Surma yang diperankan begitu apik oleh para aktornya mampu membuat penonton ikut menghayati ceritanya.

Sebelum sampai pada penampilan penutup, beberapa anggota Teater Lingkar membacakan puisi karya mahasiswa Stikosa-AWS yang ditulis di pohon sastra. Tak lupa dengan keadaan Indonesia sekarang ini, Lingkar juga menampilkan musikalisasi puisi yang bercerita tentang gempa Palu dan mengajak penoton sejenak ikut untuk merasakan duka mereka.

Tak hanya melakukan musikalisasi puisi untuk korban gempa Palu,  Lingkar juga mendonasikan uang tiket masuk acara ini serta uang lelang buku yang berjudul “Sepanjang Kayuh” karya Syarif W.B untuk para korban. Acara pun ditutup dengan tari teatrikal “Upah Jiwa” oleh Klantink dan Tales.

Selain para anggota Lingkar yang telah berupaya menyukseskan acara ini, Malam Sastra juga melibatkan mahasiswa baru 2018 Stikosa-AWS yang berjumlah 30 orang sebagai aktor, kru pementasan juga pemain musik. “Total ada 30 orang yang ikut gabung. Mereka kami bagi menjadi aktor, kru dan pemusik,” tutup Ade “Mangat” Resty, sang Ketua Pelaksana Malam Sastra 2018. (N/F: Pita)