Lumbung Padi, Candi Pari

actasurya-candipari

Sepi, hanya ada seorang lelaki yang berjaga dalam pos. Ketika membuka gerbang taman, senyum ramah pun terkembang di bibir M. Saroni, penjaga cagar budaya itu. Sungguh, penyambutan yang cukup menyejukkan di hari yang seterik siang itu.

Sidoarjo, pikiran kita akan langsung teringat tentang bencana lumpur panas Lapindo, ketika mendengar kota bandeng dan udang itu disebut. Ya, sampai-sampai bencana yang tak tahu ujung akhirnya tersebut, kini dimanfaatkan warga Porong sebagai wisata lumpur yang juga dijadikan ladang pencaharian korban lumpur dengan berjualan makanan di dekat tempat wisata.

Tak banyak yang menyangka, selain terkenal dengan lumpur panasnya, ternyata Sidoarjo juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya zaman Mojopahit yang tak ternilai. Heran, penuh tanya dan bangga akan bersarang di benak kita. Bagaimana tidak? Saat ini, siapa yang tidak akan tercengang dengan berdirinya candi di Sidoarjo?

Jangan heran, memang tak banyak yang menyadari dan mengetahui keberadaan candi ini. Pernyataan yang sama juga dituturkan M. Saroni. “Jangankan mbak, orang Sidoarjo asli saja tidak tahu tentang candi ini,” aku lelaki yang akrab disapa Saroni ini.

Ya, tepat di dusun Candi Pari Wetan, desa Candi Pari, kecamatan Porong, Sidoarjo terdapat sebuah candi yang berdiri di tengah tanah seluas 1. 310 m². Candi Pari yang berarti candi padi adalah peninggalan kerajaan Mojopahit yang waktu itu dipimpin Hayam Wuruk. Candi yang dulunya lumbung padi itu, sengaja dibangun oleh rakyat untuk mengenang sosok Jaka Pandelegan, manusia yang dikutuk menjadi ikan..

Dikisahkan, Jaka Pandelegan tertangkap oleh Jaka Walang Tinunu, anak dari janda Nyai Injingan sepupu Kyai Gede Penanggungan, ketika menjala di sungai. Jaka Walang Tinunu tersentak kaget ketika mengetahui ikan yang ditangkapnya bisa berbicara. Akhirnya, disuruhlah ikan tersebut kembali ke wujud manusianya.

Untuk membalas kebaikan itu, Jaka Pandelegan mengabdi sebagai buruh tani di ladang padi milik Jaka Walang Tinunu. Karena panen padinya yang melimpah dan tak ada habisnya, Hayam Wuruk pun mengajak kerjasama Jaka Walang Tinunu untuk selalu mengirim hasil panennya pada rakyat Mojopahit.

Suatu saat, tanpa sengaja Hayam Wuruk mengetahui jati diri Jaka Walang Tinunu yang ternyata anaknya sendiri dari wanita yang dinikahinya sewaktu berburu di gunung Penanggungan dulu.

Setelah kejadian itu, Hayam Wuruk berniat mengusung Jaka Walang Tinunu beserta istrinya Nyai Walang Sangit tinggal di Mojopahit. Namun, penawaran Hayam Wuruk diterima Jaka Walang Tinunu dengan syarat harus mengajak juga Jaka Pandelegan dan istrinya Nyai Walang Angin untuk tinggal bersama mereka di Mojopahit.

Para pengawal pun dikirim untuk menjemput Jaka Pandelegan dan Nyai Walang Angin. Sebelum berangkat dan diboyong, Jaka Pandelegan berpamit pada pengawal ingin mengambil padi di lumbung sebagai bekal untuk hidup di Mojopahit. Nyai Walang Angin pun berpikiran yang sama seperti suaminya. Ia mengambil air di sumur untuk bekal selama di perjalanan mereka menuju kerajaan yang dipimpin Hayam Wuruk itu.

Karena kepergiannya untuk sekadar mengambil padi serta air dirasa cukup lama, pengawal pun menjemput mereka. Namun, baik Jaka Pandelegan dan Nyai Walang Angin tak ditemukan. Suami-istri itu hilang misterius, entah kemana perginya.

Oleh karena itu, untuk menghormati dan mengenang hilangnya Jaka Pandelegan, rakyat pun membangun candi dengan ketinggian ± 4, 42 m itu. Ada yang berbeda dengan candi yang berumur 640 tahun itu. Perbedaan terlihat dari bentuk fisik (bangunan, red) yang sedikit tambun seperti candi-candi di Jawa Tengah. Padahal, kebanyakan ciri-ciri candi yang ada di Jawa Timur bentuk bangunannya ramping.

Meskipun bentuknya yang kecil dan sempit, Candi Pari bisa menampung 200 siswa Sekolah Dasar (SD). Di dalamnya candi, terdapat bongkahan-bongkahan batu bertuliskan aksara Jawa kuno. Namun, karena susunannya yang masih acak membuat sulit untuk diterjemahkan. Kesulitan itu dikarenakan batu-batu tulis banyak yang hilang setelah adanya penjarahan yang dilakukan oleh Belanda dulu.

Di atas pintu masuk candi, terlihat batu bertuliskan tahun berdirinya Candi Pari, 1293 Saka atau 1371 Masehi. Ketika masuk di dalam bangunan cagar budaya itu, kita akan langsung melihat pripih, yang sengaja diletakkan di tengah-tengah candi. Hal itu untuk mempermudah para pengunjung yang bersembahyang di candi.

Sebelum dijarah Belanda, pripih yang difungsikan sebagai tempat menyimpan abu orang meninggal itu, berjumlah lebih dari 40 buah. Namun, sekarang hanya tersisa satu buah. Itupun kondisinya kurang terawat. Karena ditemukan banyaknya congkelan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.

Selain pripih, juga terdapat patung tanpa kepala yang diduga perwujudan dari patih Gajah Mada dan dua patung wanita. Gaya arsitektur Candi Pari terpengaruh dari Champa, salah satu nama daerah di Vietnam. Memang pada masa kejayaan Mojopahit, Jawa menjalin kerjasama dagang dengan negara Vietnam.

Di pinggir-pinggir bagian dalam candi, berjejer enam kayu jati bekas penyangga pintu Candi Pari yang sekarang dijadikan tempat duduk bagi pengunjung yang masuk di dalamnya. Terdapat juga enam celah yang difungsikan sebagai ventilasi udara.

Bangunan yang perawatan dan pengelolaannya menjadi tanggungjawab dinas purbakala ini, juga ditemukan dua arca Siwa Mahadewa, dua arca Agastya, tujuh arca Ganesha dan tiga arca Budha yang sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Untuk menjaga dan merawatan keaslian bangunan Hindhu itu, pemerintah kota dan dinas purbakala melakukan lima kali pemugaran bertahap dari tahun 1994 sampai 1999. Mulai dari penyangga pintu, bata-bata yang dirasa rusak baik yang di dalam maupun di luar candi direnovasi.

Tak sembarangan, dalam setiap pemugarannya tim arkeolog berusaha untuk mengganti aset sejarah yang rusak tersebut hingga nampak seperti aslinya. Bangunan yang tersusun dari bata yang direkatkan dengan menggunakan putih telur dan gula jawa itu, memang nampak banyak keropos dan berlumut di bata-bata candi.

Untuk renovasi yang dilakukan, Saroni mengaku kesulitan. Karena bata-bata candi tersebut berbeda dengan bata-bata yang digunakan bangunan sekarang. Dengan tebal 8 cm dan panjang 17 cm, membuat dinas terkait harus memesan secara khusus untuk mengganti bata-bata candi yang rusak. Sehingga, proses pemugaran pun menjadi lama.

Anda tertarik dengan cagar budaya peninggalan kerajaan Mojopahit ini? Silakan mengunjunginya. Candi ini buka mulai pukul 06.30 sampai 14.00 WIB. Tapi khusus hari Senin, Anda tidak akan bisa menikmati keindahan candi ini. Karena hanya beroperasi mulai hari Selasa hingga Minggu. Kemudahan dan kepuasan akan lebih terasa ketika masuk di dalam candi, karena tidak dipungut biaya masuk.

naskah dan foto : lia | actasurya.com

No Comments