Kuliah Terakhir PAI, Mahasiswa Mendadak Aktif

Actasurya.com – Suasana tidak biasa tampak pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI), Jumat (6/1). Suasana perkuliahan yang berlangsung di Ruang IV Stikosa-AWS itu lebih hidup dibanding biasanya. Hal ini tentu tak disia-siakan oleh Sahudi Sirodj, dosen mata kuliah PAI. Sahudi menganggap dalam perkuliahan yang ditempuh mahasiswa semester I ini, terlihat kurang aktif. Spontan ia pun mengubah metode pengajarannya dari ceramah menjadi tanya jawab.


Alhasil susana kelas menjadi lebih hidup. Terlihat dari keaktifan mahasiswa dalam sesi tanya jawab. Hal itu membuat Sahudi terlihat senang, maklum selama ini mahasiswa kurang aktif dalam perkuliahan. “Sebenarnya tidak ada persiapan khusus untuk membuat sesi tanya jawab. Saya merasa selama ini tidak ada respon dari mahasiswa, sehingga spontan saya persilahkan mereka untuk bertanya hal apapun diluar pembahasan materi, namun masih bersangkutan dengan ajaran agama islam dan ilmu fiqih. Semoga dapat diparaktekkan dalam kehidupan sehari–hari,” ujarnya ketika ditemuai reporter Acta Surya.


Mahasiswa pun senang dengan pengajaran yang diterapkan dalam perkuliahan tadi. “Sangat senang dengan metode pengajaran seperti itu, jadi tidak monoton si dosen saja yang bicara, mahasiswa pun bisa bertukar pikiran dan yang penting bisa mengerti beberapa hal yang tidak boleh dalam islam,” kata Sulihati, salah satu mahasiswi.


Menurut Sahudi, sesi tanya jawab akan sangat membantu mahasiswa untuk lebih mengetahui akan pentingnya ilmu fiqih untuk kehidupan sehari–hari. “Cukup besar antusias mereka untuk bertanya masalah agama yang ada di kehidupan sehari–hari, salah satunya masalah najis,” kata dosen yang juga mengajar di IAIN Sunan Ampel ini. “Tidak banyak mahasiswa yang mengerti soal najis. Saya harap dari penjelasan saya mereka dapat memahami apa yang belum mereka mengerti sebelumnya,” lanjutnya.


Sahudi berharap mahasiswanya bisa mempunyai akhlak yang lebih baik lagi. Ia mengungkapkan akan sangat berdosa bila tidak memberi pemahaman yang baik terhadap mahasiswanya. “Karena saya sebagai dosen agama akan sangat berdosa jika tidak memberi kejelasan kepada anak didik saya supaya mengerti dan berhati–hati dalam bertindak dikehidupan sehari–hari,” pungkasnya. N/F : Rochmawati