Kostum Daur Ulang Jadi Magnet di Festival Rujak Uleg Surabaya 2019

Tri Rismaharini sangat mengapresiasi kostum peserta Rujak Uleg, karena menggunakan bahan daur ulang, Minggu (17/03).

Actasurya.com – Selain kehebohan gaya dan cara peserta menguleg rujak,  kostum yang peserta pakai di acara Festival Rujak Uleg Surabaya 2019 pun tak kalah ramai sekaligus menarik perhatian pengunjung. Peserta tak hanya sekadar menguleg, namun juga menampilkan sesuatu yang atraktif dan energik alhasil kian menambah kehebohan peserta Festival Rujak Uleg, Minggu (17/3).

Peserta festival tahun ini mengenakan kostum unik, mulai dari bertema kontemporer, tokoh pewayangan, kostum daur ulang, hingga baju adat seluruh nusantara. Seluruh peserta yang ikut dalam festival ini memang diwajibkan mengenakan kostum serta  bertata rias unik. Kerumitan kostum masing-masing peserta menjadi penilaian dalam lomba ini, selain rasa rujak yang dibuat, presentasi, dan kostum terbaik.

Salah satu pemenang dari kategori kostum terbaik, yakni peserta asal kecamatan Rungkut Tengah, Surabaya, mereka mengusung tema Jepang dengan ornamen dari daur ulang barang bekas yang disulap menjadi gaun berwarna pink seperti bunga Sakura.

“Saya pribadi gak nyangka kalau kostum yang saya pakai ini jadi kostum yang terbaik, karena melihat kostum yang ada di festival ini juga bagus-bagus, jadi saya gak kepikiran kalau menang untuk kategori ini,” ungkap Azizah Rahma Amalia

Untuk pembuatan gaun khas Jepang ini membutuhkan waktu  dua minggu. Bahan yang dikenakan terbuat dari bahan daur ulang plastik botol, sehingga memberikan nilai tambah untuk kategori kostum terbaik.

Azizah pun menyampaikan harapan untuk warga Surabaya, “kita sebagai warga Surabaya harus melestarikan budaya khas Surabaya dan jangan malu untuk menggunakan baju berbahan daur ulang, karena bahan yang kita anggap tidak layak, dapat memberikan nilai tambah dan bisa dikenal banyak orang,” cakapnya

Tak hanya Azizah saja,  peserta Festival Rujak Uleg dari SMK St. Louis, Stevani yang mengenakan kostum unik ala putri kerajaan Banyuwangi yaitu Jejer Gandrung Banyuwangi, di mana kostum ini dipenuhi dengan manik-manik dari daur ulang tutup botol minuman dan memiliki sayap menjulang berwarna emas.

“Selama satu bulan, kami telah mempersiapkan kostum ini. Kami memilih baju khas Banyuwangi ini karena ingin memperlihatkan bahwa kota Banyuwangi kota paling ujung di Jawa Timur itu memiliki banyak wisata terutama di baju khas Banyuwangi, seperti yang saya pakai, dan ini upaya kita untuk memperkenalkan kota Banyuwangi,” ucap Stevani.

Hadir pula ratusan tamu undangan dari beberapa negara yang juga ikut berpartisipasi menjadi peserta, salah satunya Tara Bsnedjee Dafi (58) yang merupakan Presiden Asosiasi India. Ia mengenakan pakaian tradisional India dengan perpaduan warna hijau dan coklat. Perempuan yang sudah menetap di Surabaya selama 24 tahun ini, mengaku sangat senang mengikuti festival ini.

“Saya sangat senang sekali, apalagi orang-orangnya juga sangat ramah dan kita juga harus belajar dari orang  Indonesia untuk tetep tersenyum, walau ada masalahpun juga tersenyum” ungkap Tara.

Acara yang diselenggarakan satu tahun sekali ini,  dihadiri 1.801 peserta yang terdiri dari perwakilan dari 31 kecamatan dan kelurahan se-Surabaya, perwakilan 36 Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Komunitas warga Negara Asing dan perwakilan mahasiswa asing yang ada di kampus Surabaya, komunitas suku daerah yang ada di Surabaya, komunitas masyarakat Tionghoa, serta komunitas masyarakat lampung dan komunitas masyarakat Bima, NTB. (N/F: alf/ftr)