Kepungan Pasar Modern Tak Mempengaruhi Eksistensi Pedagang Pasar Tradisional

actasurya.com – Kota Surabaya saat ini memiliki banyak sekali titik-titik. Itulah sebabnya, persaingan antar pasar kerap terjadi. Sistem perdagangan pun juga sudah banyak sekali bermunculan dari beberapa ini, baik dari online maupun offline (penjualan langsung).

Namun, bukan berarti meningkatnya pasar modern bisa menggeser posisi dari sektor pasar tradisional. Seperti Pasar Pabean yang terletak di wilayah Kecamatan Pabean Cantikan. Pasar yang telah berdiri sejak 1918 ini mampu menjawab persaingan di tengah kepungan pasar modern.

Pasar ini menjual  mulai dari kebutuhan bahan rempah, hingga penjualan berbagai jenis ikan. Para pedagang pun ketika dikonfirmasi juga tak mempermasalahkan peningkatan pasar modern maupun perdagangan yang berbasis e-commerce (online).

Seperti pedagang bawang merah satu ini, Siti Aminah, yang sudah berpuluh-puluh tahun berdagang di sini. Ia merasa tak sedikit pun pendapatannya terpengaruh oleh banyaknya pasar modern. Hanya faktor-faktor tertentu saja yang mungkin memengaruhinya.

“Tidak ada pengaruhnya kalau dibandingkan dengan minimarket atau pasar-pasar yang ada di mall. Mungkin berpengaruh kalau saat musim-musim tertentu, seperti musim hujan atau waktu masuk hari raya,” tuturnya.

Selain itu, hal senada juga diucapkan oleh salah satu pedagang ikan di Pasar Pabean ini, yakni Mukijan. Warga asal Gresik ini menuturkan sudah 30 tahun menjadi pedagang ikan di Pasar Pabean. Sehari-hari ia berjualan 500 kg ikan bandeng segar. Lanjutnya, penjualannya hanya turun ketika memasuki musim hujan.

“Kalau musim hujan biasanya pembeli datangnya agak berkurang,” ucap Mukijan.

Lanjutnya, dalam menyikapi maraknya pasar modern yang lagi berkembang, ia menganggap bahwa tidak ada hal yang terlalu berdampak secara signifikan. “Nggak ngaruh mas, soalnya yang beli di sini itu kebanyakan pelanggan,” katanya. (N/F: Andyan)