Jangan Kian Redup Kampus Biruku

Actasurya.com – Selamat datang di kampus komunikasi tertua di Indonesia Timur. Kampus pencetak wartawan-wartawan hebat, fotografer-fotografer senior dibeberapa media besar, orang-orang penting di stasiun televisi, pendiri komunitas-komunitas berunsur edukasi ataupun pendiri portal berita online terkenal. Mereka adalah orang-orang yang membuat nama kampus menjadi gemilang. Mereka adalah orang-orang yang saya yakini, memiliki rasa cinta terhadap dunia yang digelutinya, menyayangi profesinya ataupun memang mereka bertekad untuk membuat perubahan-perubahan.

Apakah kita yang saat ini berstatus sama dengan mereka puluhan tahun yang lalu, akan terus beranggapan bahwa mereka adalah orang hebat yang mengharumkan nama kampus ?. Apakah semangat dan kegigihan itu hanya ada pada mereka ? Lalu kita, yang ada disini, masuk ke dalam kelas dari hari senin hingga jum’at dan mendengarkan materi yang disampaikan bapak ibu dosen, hanya diam ditempat saja ?

Tak adakah api yang menyala lebih besar setelah api mereka dahulu ? Apakah regenerasi yang ada  di kampus akan mati ? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seringkali muncul dibenak kepala saya, apakah lima sampai sepuluh tahun kedepan orang diluar sana akan mengenal kampus kita dengan label kampus pencetak wartawan-wartawan hebat ? Masih adakah citra seperti itu yang dimiliki kampus biru ini ?

Bila menengok kebelakang, sepertinya pertanyaan yang rumit dikepala saya akan terjawab dengan mudah. Tidak, tidak akan ada orang yang mengenal kampus ini lagi, regenerasi pun berlahan mulai mati, yang tersisa hanya secuil cerita manis tentang hebatnya mereka di masa yang dulu.

Melihat bagaimana kondisi mahasiswa di kampus biru saat ini, adalah kepahitan kecil tersendiri bagi saya, disana-sini para adik tingkat saya sibuk mengerjakan tugas, tapi anti berdiskusi, didalam kelas ketika saya masuk, hampir seluruh nama yang ada didalam absensi hadir saat itu, namun ketika dosen berkata, “Ada Yang Di Tanyakan?,” mereka sibuk mengecek hp masing-masing dan berlaga membalas pesan-pesan yang masuk. Hal serupa pun tak jauh berbeda ketika saya pergi ke kantin atau ke perpustakaan, banyak kelompok-kelompok mahasiswa yang berbincang, saya kira mereka mendiskusikan suatu topik, yang terdengar lirih dalam telinga saya hanyalah bagaimana trend pakaian jaman sekarang, secantik apa artis ini, dan mengenai hubungan teman satu dengan teman satunya lagi. Saya menatap nanar atap kantin, kampus biruku kehilangan nyawanya sendiri.

Lalu harus seperti apakah menjadi mahasiswa? Bila ditanya seperti itu, saya pun tak bisa menjawab. Bagi saya menjadi mahasiswa tidak ada aturannya. Artinya seorang mahasiswa bebas, bebas mencari ilmu dari mana saja, ilmu tidak hanya didapat dari dosen yang kita jumpai dikelas, tidak hanya dari tugas-tugas dengan makalahnya yang cuma copy paste dari internet lalu dijilid dengan mika bening dan logo kampus sebagai covernya. Bekal untuk kita ada dimana-mana.

Di buku-buku, disela perbincangan kita dengan satpam, di unit kegiatan mahasiswa, di perbincangan face to face dengan dosen, di forum-forum diskusi mahasiswa, di luar kampus, di komunitas-komunitas luar, di langkah-langkah kaki kita, di bawah kolong jembatan, di perempatan jalan, dibalik bendera parpol, di trotoar jalan, dimanapun itu bisa kita dapatkan. Karena bagi saya yang terpenting dari seorang yang berstatus mahasiswa bukanlah nilai. Bukan Indeks Prestasi, bukan seberapa cepat kita lulus, bukan kesayangan dosen atau mahasiswa biasa, bukan peminta dispensasi atau tak pernah menunggak, bukan pembolos atau yang tak pernah titip absen. Tapi bagaimana pola pemikiran dan tindakan kita untuk menyikapi berbagai macam persoalan yang ada di sekeliling kita terasah selama proses, sejak berstatus mahasiswa baru hingga bergelar menjadi Sarjana Ilmu Komunikasi.

Yang membedakan mahasiswa dengan yang bukan mahasiswa adalah pola pikirnya. Bagaimana kita bisa fasih berdiskusi, bertukar pikiran dengan orang-orang diluar lingkaran teman-teman/geng kita dikelas, bagaimana kita bisa menghadiri acara-acara yang mampu mengasah daya kritis kita tanpa mengharap sertifikat untuk dijadikan SKP saat lulus. Bagaimana kita bisa belajar menghargai forum-forum, karya-karya, pendapat-pendapat, pilihan-pilihan yang jauh berbeda dengan pendirian kita. Bagi saya mahasiswa harus memiliki idealisme, sesuatu yang menjadi keyakinan dan pertimbangan dalam mengambil keputusan-keputusan. Mahasiswa tak boleh pasif. Seharusnya tak boleh ada istilah mahasiswa pemalu, tak mau buka suara dan memilih diam asalkan lulus tepat waktunya. Kita diciptakan untuk menjadi pembawa perubahan, bukan pembawa perubahan namanya kalau berbicara dihadapan umum saja kita malu-malu.

Kita tertinggal sangat jauh, dengan kampus-kampus lain baik negeri maupun swasta diluar sana. Kita kehilangan roh. Seperti bukan AWS yang dulu lagi. Yang didalamnya pemuda-pemuda memiliki kemauan keras untuk belajar dan mengerti. Masihkah akan tetap seperti ini? Atau ada yang berusaha bangkit dari mati surinya dan sadar bahwa waktu terus berjalan dan ijazah saja tak cukup untuk memperbaiki keesokan hari nanti?.

Mahasiswa satu dengan lainnya tak bisa disamakan, ada kelas pagi dan malam, ada yang hanya kuliah saja, ada yang bekerja sambil kuliah, namun bukan mahasiswa namanya kalau tak berani mengambil resiko. Jangan lupa membuat sesuatu, menulis artikel, berkegiatan di alam, bermain teater, membuat film, memotret, atau apapun itu. Jangan pergi dari kampus ini hanya dengan membawa selembar kertas yang bertuliskan selamat anda lulus dari kampus dan transkrip nilai saja, namun bawalah semua kenangan saat kalian menjadi mahasiswa aktif dan juga pemikiran-pemikiran hasil dari diskusi-diskusimu dulu.

Penulis : Izzatul Mucharom