Hancok #2: Semangat Berkesenian Mandiri

Actasurya.com – Hari Seni Cokro #2 (HANCOK) kembali digelar pada 25-27 september 2018, dengan mengusung tema “Daya Budaya”. Semangat berkarya yang membara dari para seniman dan mahasiswalah yang membuat pagelaran seni ini kembali terlaksana.

Menyajikan seni karya cipta rupa, musik, teater hingga kesenian tradisional seperti ludruk, membuat pihak yang terlibat dalam acara ini yakin bahwa Hancok dalam proses panjangnya nanti Hancok akan menjadi salah satu agenda kesenian Kota Surabaya  yang bermanfaat bagi masyarakat.

Acara yang dilakukan di Warung Mbah Cokro, Jl. Raya Prapen 22, Surabaya, ini akan menampilkan karya-karya yang berasal dari 50 seniman, dan 10 lapak urban. Kegiatan ini juga setengah bersifat eksperimental, artinya sisi kemandirian dalam berkarya adalah yang diutamakan.

“Baik dalam hal pemenuhan pendanaan dari segi penciptaan karya hingga kebutuhan teknis selama acara berlangsung, kami tidak mengandalkan dana dari sponsor, melainkan melalui ngamen serta menjual berbagai makanan ringan untuk menutupi segala kebutuhan keuangannya,” ujar Alan Wasahlan, Ketua Panitia HANCOK #2

Dalam kegiatan ini pengunjung dapat membeli hasil karya dari lapak-lapak yang telah disediakan. Diantaranya Swastika Merch, Tunggal Art, Halimun dan beberapa lapak lain. Acara yang digelar selama tiga hari ini di buka pukul 15.30 – 22.00 Wib di Warung Mbah Cokro, Jl. Prapen.

Berbagai macam lapak yang tersedia di Hancok#2 di antaranya, Lapak Dyenorth, Idealita Merch, Halimun, LUNTAS, Swastika, Bunuh Diri Merch, Kopi Cukil, Tunggal Art, Damar Kurung, HANCOK, (25/9)

Akan ada bebebrapa pengisi acara dari berbagai seniman, diantaranya  Barongsai Boen Bio, Teater Wilwatikta, The Luntas, Totenk MT dan beberapa grup lain.

“Harapan kami, melalui HANCOK dapat memicu ide-ide kreatif dari para seniman muda, khususnya yang berasal dari surabaya. sehingga dapat menciptakan iklim kesenian yang bersahabat dengan masyarakat. Serta dapat menjadi ajang bagi pebisnis muda di Surabaya untuk menciptakan geliat perekonomian yang mandiri kreatifnya,” tutup Alan (N/F : Hanim)