Diskusi Fotografi Jurnalistik, Himmarfi Suguhkan Nuansa Jalanan

actasurya.com – Mengukir sebuah cerita dalam lensa, banyak kisah masyarakat jalanan telah masuk kedalam acara seminar fotografi jurnalistikyang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Penggemar Fotografi (HIMMARFI),salah satu Unit kegiatan Mahasiswa (UKM) di Stikosa-AWS yang diadakan Rabu (14/9/2016) di Mall BG Junction lantai L2, Jl. Kranggan no.8 A, Bubutan, Surabaya.

Bertemakan “perkembangan foto jurnalistik,” acara ini menghadirkan Budi Sugiharto, kabiro detik.com Surabaya sebagai pembicara. Acara dimulai pukul 14.00 dengan sambutan oleh Dra. Puasini Apriliantini selaku pembantu ketua III di Stikosa-AWS. Ia mengatakan bahwasanya kegiatan ini sangat positif, dimana para peserta bisa mempelajari fotografi. “Kegiatan ini sangat sangat positif sekali, dimana para peserta yang hadir bisa belajar tentang ilmu fotografi,”ungkapnya.

Diawal diskusi, mas Uglu sapaan akrab dari Budi Sugiharto menjelaskan bahwa fotografi adalah hal yang bersifat universal. “Fotografi bersifat universal. Bisa diliat oleh semua orang. Foto bisa diterima jika orang yang melihat bisa memahami gambar yang ditampilkan,” paparnya.

Disamping itu, seorang fotografer juga harus memiliki nilai dan naluri agar pesan dari foto yang diambil dapat tersampaikan bahkan ter-realisasikan. Ditengah diskusi diselipkan penampilan beberapa hasil foto, salah satunya tentang panorama gunung Bromo.Ia menjelaskan perkembangan smartphone di Indonesia mendorong masyarakat untuk menjadi fotografer. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa orang biasa bisa menjadi wartawan dan akan dilirik oleh banyak media. Akan tetapi, media juga harus memiliki tanggung jawab atas foto pada perusahaan media karena seorang wartawan foto juga dilindungi undang-undang.

“Foto yg dishare di media sosial bisa menimbulkan empati dari orang yang melihat hasil foto,” tambahnya. Foto harus punya nilai yang menyentuh, perbedaan, kejelian, estetika, menyengat, foto yang bisa menimbulkan belas kasihan, humanis, komposisi, dan tentu saja fotografer matanya harus jelalatan, dimana dia harus jeli melihat suatu kejadian.

“Fotografer dituntut sangat memahami alur cerita untuk bisa mewujudkan dalam visual. Kita harus menyatu dengan foto atau objek foto,” pungkasnya.Seminar fotografi ini dihadiri oleh sejumlah siswa dari beberapa sekolah di Surabaya. Berakhirnya acara ditutup oleh permainan akustik.

Alfan karuniawan selaku ketua pelaksana menjelaskan persiapan acara ini membutuhkan waktu tiga bulan, dan tujuannya untuk memamerkan hasil karya foto story, tentang melihat jalan dari foto.”Persiapan ini membutuhkan waktu tiga bulan, dan diskusi ini merupakan serangkaian dari acara pameran yang mengangkat tentang foto story jalan yang ada di Surabaya,” tutupnya. (N/F: Ayun)