Ketika Balai Pemuda Bermandi Cahaya

Di kiri dan kanan kubah yang mirip mahkota ratu itu terdapat haluan rumah atau lazim disebut gevel. Bangunannya dikelilingi selasar seakan bangunan tersebut terasa sejuk. Belum lagi jendela-jendela dan pintu-pintunya yang lebar dan tinggi.

Dalam tulisan Dukut Imam Widodo penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe, konon dulu jaman Belanda gedung Balai Pemuda bernama Simpangsche Societeit. Dan di gedung yang diarsiteki Westmaes inilah orang-orang kulit putih khususnya Belanda, kemudian ada dari bebearapa negara eropa lainnya hadir. Mereka selalu menghabiskan malam dengan berpesta.

Jalan Raya Simpang memanjang mulai dari Toendjoenganstraat, hingga ujung utara Kajoonstraat. Tepat ditengah-tengah jalan itu dipisah oleh dua buah jalan yang lain yakni Palmenlaan (sekarang Panglima Sudirman) dan Dijkermanstraat (kini Yos Sudarso). Kawasan itulah bila setiap malam bermandikan cahaya.

Sedangkan di dalam gedung yang berdiri di atas tanah seluas 17 ribu meter persegi kala itu digelar acara makan malam dan dansa. Sebuah orchestra kecil yang terdiri dari tiga orang pemain biola dan satu orang pemain cello, segera menyajikan komposisi lagu-lagu berirama waltz. Orang Belanda menyebut dansa waltz itu dengan Weenerwals atau Waltz Wina.

Menurut pemaparan Dukut semakin malam, suasana di gedung yang didirikan pada tahun 1907 itu terasa semakin hangat. Aroma bau minuman keras, keringat dan asap cerutu berbaur menjadi satu. Kini para tamu berdansa Pulka yang rancak. Adalah lagu Mamsell Ubermut serta Die Lustigen Kahlenberger yang menjadi favorit para tamu. Gerakan kaki yang cepat, dinamis dan ritmis, serta bunyi ketukan sepatu yang menyentuh lantai telah menimbulkan kesan tersendiri bagi yang melihatnya. Trèk...tèk..tèk..trèk..tèk..tèk.

Tidak dapat dipungkiri, bahkan hingga kini, Balai Pemuda menjadi simbol kaum elit bangsa Eropa, khususnya Belanda yang tinggal di Surabaya. Ditempat inilah orang-orang Belanda yang masih merasa mempunyai mertabat dan harga diri, serta rodok strip mendirikan sebuah organisasi rasial pada bulan Oktober 1929. Vaderlandsche Club, nama organisai itu. Dan rata-rata mereka adalah para pengusaha, bankir, dan juga pemilik perkebunan yang kaya raya.

Pribumi dan Anjing
Bicara keindahan artistik bangunan Balai Pemuda, seakan tak terpisahkan dari sebuah histori yang terkandung di dalamnya. Mulai dari dijadikannya sebagai tempat pesta, tempat billyard dan perjamuan makan malam orang eropa, khususnya Belanda. Hingga adanya sejarah yang mencatat kalau di gedung yang berdiri pada tahun 1907 itulah orang pribumi dilarang masuk.

Verboden voor Inlander! Itulah sebuah tulisan yang dulu terdapat di Balai Pemuda. Tulisan yang berarti Pribumi Dilarang Masuk! Itu ada pada dua buah papan pengumuman berwarna dasar hitam dengan tulisan bercat putih. "Yang satu menghadap ke Simpangschestraat dan yang sebuah lagi ke Dijkermanstraat," begitulah tulis Dukut Imam Widodo dalam buku Soerabaia Tempo Doeloe.

Konon, jika ada anak negeri Indonesia (Pribumi) di sana, lantaran pekerjaannya sebagai jongos. Dalam catatan Dukut semua jongos di Simpangsche Societeit adalah orang pribumi yang sudah diajar adat dan sangat tahu tata krama, tapi kurang makan. Karena itu tidaklah aneh jika tubuh mereka kurus-kurus.

Di dalam bertugas mereka mengenakan pakaian model jas bertutup berwarna putih, dan celananya pun putih. Antara baju dan celana dililitkan kain panjang jarit yang diwiron. Para jongos itu semua mengenakan ikat kepala udheng yang warnanya senada dengan kain jaritnya. Mereka semuanya bertelanjang kaki. Tugas mereka terutama adalah sebagai pelayan yang menyajikan makanan serta minuman untuk para tamu, serta menjaga kebersihan gedung itu.

Terlepas dari sejarah jongos-jongos yang tak terpisahkan dari balai pemuda. Sedikit banyak apa yang dulu sempat tertera pada papan tulisan di halaman gedung Balai Pemuda, tentang larangan pribumi masuk ke kawasan seluas 17 ribu meter persegi itu membuat warga kota Surabaya geram. Terlebih larangan itu ada pada gedung monumental Balai Pemuda.

(Naskah : M.Ridlo'i / Foto: Akbar Insani)