Menurut sumber sejarah, kampung Kembang Kuning termasuk daerah Ampel Denta, yang letaknya di antara hutan belantara.
Melihat geografisnya, hutan belantara itu adalah hutan Wonokromo, Wonokitri, Wonoboyo dan Wonorejo. Tak salah bila ada sebagian yang berpendapat letak perkampungan di kelilingi daerah-daerah tersebut.
Kata Ampel Denta sendiri berasal penggabungan dua kata, Ampel dan Dentho. Ampel berarti Gebang (pintu), dan Dhento berarti Kuning. Oleh karena itu pedukuhan Ampel Dhento disebut pedukuhan Gebang Kuning.
Sejarah Gebang Kuning, tidak bisa dipisahkan dengan sosok Mbah Wiro Soerojo, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Karimah. Sosok terakhir ini makamnya cukup dikramatkan oleh sebagian masyarakat di pertengahan perkampungan Kembang Kuning.
Mbah Karimah, juga dikenal dengan sebutan Ki Bang Kuning. Berhubung kaum penjajah kesukaran dalam pengucapan namanya berganti menjadi Kembang Kuning.
Sebagian orang percaya kisah Kembang Kuning bermula dari kisah seorang bocah kecil bernama Samputoalang atau Raden Rahmat, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Ampel.
Menjelang dewasa, Samputoalang yang dulu tinggal di sebuah daerah di Kambolja, memohon ijin kepada kedua orang tuanya untuk mengunjungi sang bibi, Ratu Darawati, istri Raja Mojopahit Prabu Kertawijaya, di Tanah Jawa. Saat itulah, Sampotoalang ditawari untuk tinggal di Jawa.
Raja Kertawijaya memintanya tinggal di daerah Ampel, Surabaya. Saat itu namanya pun berubah menjadi Raden Rahmatullah. Melihat penyebaran Islam semakin pesat, Raja Mojopahit pun geram. dan mengasingkan Samputoalang di hutan belantara yang tidak lain daerah Kembang Kuning.***
(Naskah : Siska Pradibka / Foto: Dhimas Prasaja)
Sebuah masjid di Kembang Kuning, memiliki kisah tersendiri. Konon, karena lama tinggal di pengasingan, Samputoalang atau Raden Rahmat atau Sunan Ampel, mendirikan sebuah masjid di tengah hutan belantara. Tepatnya, dibangun di daerah pertengahan Kademangan Cemoro Sewu, di tengah-tengah kawasan Ampel Dento atau Kembang Kuning.
Masjid itu dibangun pertengahan abad ke-15. Karena didirikan oleh Samputoalang atau Raden Rahmad, masjid itu pun bernama Masjid Rahmatullah. Tuanya usia, membuat masjid Rahmatullah dipercaya sebagai masjid tertua di Jawa Timur. Tidak ada catatan sejarah mengenai hal ini.
Yang menarik, proses pendirian masjid pun diselimuti oleh kisah cinta. Ceritanya, Nyai Karimah, putri salah satu tokoh setempat bernama Ki Demang Wiro Soerojo, sering mengantarkan makanan. Biasanya, Nyai Karimah datang saat waktu istirahat tiba.
Karena seringnya bertemu dengan Samputoalang, timbullah ketertarikan di antara keduannya. Mereka pun menikah dan dikaruniai dua orang putri yang diberi nama Siti Murtosima dan Siti Murtosiah.***
(Naskah : Siska Pradibka / Foto: Dhimas Prasaja)
Bunga-bunga makam tidak hanya bernilai emas dari harganya. Melainkan bernilai emas dari segi manfaatnya.

Berbekal keranjang bambu di pergelangan tangan, anak-anak pencari bunga kamboja berlomba memunguti bunga-bunga yang berguguran di bawah pohon kamboja, di areal pemakaman Kembang Kuning Surabaya. Setelah keranjang penuh, bunga yang terkumpul itu ditata di atas terpal dan dijemur di bawah terik sinar matahari.
Apa yang dilakukan anak-anak sekitar makam itu bukan tanpa alasan. Mereka membantu orang tua yang hidup sebagai penjual bunga kamboja kering. Selain prosesnya tidak rumit, harga bunga Kamboja kering pun tergolong tinggi, hingga Rp.23 ribu/kilogram.
Untuk mendapatkan kamboja kering dengan kulitas bagus, proses penjemuran dilakukan kurang lebih selama tiga hari. Kamboja yang dipilih pun harus yang berwarna merah kecoklatan.
M. Epang (34), salah satu pengepul kamboja mengaku, bisnis bunga kamboja sangatlah menjanjikan. "Kamboja dapat diolah dalam berbagai macam kebutuhan, seperti dijadikan obat, bibit minyak wangi, minuman, dan sebagainya," kata Epang. Karena itu, kamboja tidak pernah sepi peminat.
Untuk mendapatkan kamboja pun gampang. Empang hanya perlu mengetahui areal pemakaman yang memiliki pohon kamboja. Penduduk sekitar biasanya sudah terbiasa mengumpulkan kamboja untuk dijual.
Para pengepul mengirim bunga kamboja kering ke Probolinggo untuk diolah menjadi teh herbal atau teh hongkong. Ada juga yang menjualnya ke toko obat China yang banyak tersebar di Jawa Timur.
Orang keturunan Cina meyakini, bunga kamboja bermanfaat sebagai jamu atau sering disebut teh kamboja. Dengan menyeduh kamboja kering plus air panas, teh kamboja dipercaya berkhasiat untuk mencegah rematik dan asam urat.
Bunga kamboja kering itu juga dapat diolah menjadi campuran sabun colek, bahan untuk membuat obat nyamuk bakar maupun spray, dan dapat disuling kemudian diambil sari sarinya untuk dijadikan sebagai bibit minyak wangi atau minyak untuk jenazah.***
(Naskah : Siska Pradibka / Foto: Dhimas Prasaja)