Masyarakat sekitar percaya, Kakek Bodo adalah pembantu rumah tangga di sebuah keluarga Belanda. Dikenal sebagai orang yang saleh dan jujur.
Kemudian ia meninggalkan keluarga majikannya untuk mensucikan diri dari masalah keduniawian, dengan cara bertapa. Karena sikapnya ini, keluarga Belanda yang ditinggalkannya menyebutnya sebagai kakek yang bodoh (Kakek Bodo). Namun berkat bertapanya, sang kakek memiliki kelebihan berupa kesaktian.

Kesaktian ini pun digunakan untuk membantu masyarakat setempat yang meminta pertolongan. Sang kakek pun meninggal di tempat bertapanya, yang terletak tidak jauh dari air terjun. Dan makamnya hingga kini dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Sayangnya, kini tidak banyak yang tahu-menahu tentang sejarah makam Kakek Bodo. Bahkan Karyono, salah satu pemilik warung yang sudah tinggal di kawasan itu sejak tahun 1979 pun melupakannya.
“Hanya penduduk asli saja yang tahu. Itupun orang-orang yang sudah sangat tua. lagipula kebanyakan orang disini pendatang” tutur Karyono yang mengaku berasal dari Madiun.
Karyono menambahkan biasanya hanya orang luar daerah saja yang tertarik dengan sejarah Kakek Bodo. Selebihnya hanya sekedar berjalan-jalan saja.***
(Naskah: Silviyanti Nur Indah Sari / Foto: Wahyu Triatmojo)