Proses Rumit Sebuah Batik

Ibarat mahakarya bernilai tinggi, Batik Mojokerto membutuhkan berbagai proses yang luar biasa rumit. Hmm…

Menghasilkan sebuah batik tulis khas Mojokerto berkualitas tinggi, setidaknya butuh waktu pengerjaan lima hari. Itupun, bila dikerjakan oleh delapan orang pengrajin. Namun, hal itu masih tergantung pada motifnya.

“Lama waktu dalam pembuatannya tergantung motif yang dibuat serta kain yang akan dipoles dengan malam,” terang Ernawati, pengrajin batik. Proses pembuatannya pun sama dengan batik-batik lain. Mulai dari penggambaran kain di atas kertas yang sudah bermotif, penyantingan (pembatikan) dan pewarnaan. Setelah itu, penggodokkan batik menggunakan air bersuhu di atas 100 derajat celcius.

Proses panjang berakhir di pengeringan alami. Artinya batik tersebut diangin-anginkan, dan menghindari panas terik matahari. Untuk pewarnaannya pun tidak bisa sembarangan. Cairan soda dan TRO (sejenis Naptol, red) digunakan sebagai zat pewarna buatan.

Ragam produk yang dihasilkan pun bervariasi. Tidak hanya selembar kain batik saja. Bisa berupa kain panjang (sal), kemeja, scraf, dasi, tempat pensil (tepak, red), dan tak ketinggalan tas-tas yang bermotifkan batik tulis asli Mojokerto.

Disinggung mengenai pemasaran batik-batik tersebut, Ernawati mengaku menangani sendiri pemasarannya. Erna dan pengrajin-pengrajin batik lainnya merasa cukup puas dengan adanya pengakuan dari wilayah lokal (daerah), nasional, serta internasional mengenai keberadaan kerajinan batik tulis di Mojokerto.

“Impian Saya selama ini adalah batik Mojokerto dikenalnya Batik Mojokerto oleh semua orang,”ungkapnya. Melihat persaingan industri batik tulis yang semakin ketat, terlihat dengan menjamurnya para pengrajin kesenian yang mulai bermunculan dengan tatanan beranekaragam.

Dari sinilah para pengrajin batik tulis harus mampu menggenjot kinerjanya agar tak tergerus kemajuan jaman. Tentuya, dengan hasil imajinasi dan kreatifitas yang dinamis dalam memainkan corak, warna, dan bahan lewat canting.***

(Naskah: Andrian Saputri/M.Ridlo’I / Foto: Wahyu Triatmojo)