Bertahan demi Lestari Kesenian

Terdengar lengkingan suara sinden melantunkan tembang-tembang jawa diiringi dengan tabuhan gendang dan ketukan gamelan, membuat nuansa budaya jawa terasa semakin kental di kompleks cagar budaya itu.

Ramainya kendaraan yang berlalu lalang di kawasan Surabaya Pusat siang itu, semakin menambah kesan Surabaya sebagai kota yang sibuk dengan segudang aktifitas penduduknya. Tetapi, seketika atmosfer pun berbeda ketika melintasi tepat di jln. Gentengkali no. 85.

Taman Budaya, siapa sangka bangunan yang berdiri sejak tahun 1915 itu, salah satu dari bangunan cagar budaya. Maklum, gedung yang dipusatkan untuk pengembangan dan pelestarian kesenian di Surabaya itu memang mengalami beberapa renovasi. Sehingga, tak nampak tua seperti usianya yang mencapai 94 tahun.

Kompleks yang luasnya mencapai satu hektar ini, semula merupakan komplek perkantoran dan rumah dinas Bupati Kepala Daerah Tingkat II Surabaya. Kemudian diserahkan kepada Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.

Di dalam taman bersejarah ini, berdiri berbagai fasilitas bangunan, diantaranya Pendopo Jayengrono, Gedung Cak Durasim, Sawunggaling Hall, Ruang gamelan “Sawungsari”, Wisma Seniman “Sawungrono”, dan Musholla Al-Jamal.

Tetapi dari sekian bangunan yang didirikan, Gedung Cak Durasim dan Pendopo Jayengrono lah yang sering difungsikan sebagai tempat pementasan dan pagelaran karya seni, ketimbang gedung-gedung lainnya. Tak heran jika Taman Budaya lebih dikenal dengan sebutan Cak Durasim.

Gedung Kesenian Cak Durasim

Berjalan dari gerbang menuju pendopo, terlihat bangunan yang berarsitektur joglo dengan empat pilar yang menyanga, disertai patung sosok pria mengenakan udeng (ikat kepala khas Surabaya) di depan, samping kiri bangunan bertuliskan Cak Durasim.

Patung dan bangunan tersebut sengaja dibangun untuk mengingat jasa-jasa Gondo Durasim, seniman ludruk kelahiran Jombang ini sering melantunkan kidungan yang isinya mengkritik pemerintahan Jepang dalam setiap pementasan ludruknya.

Salah satu kidungan populernya, ’Bequpon omahe doro, melu Nippon tambah soro’ yang bermakna, kehidupan pada jaman penjajahan Jepang lebih sengsara daripada hidup di jaman penjajahan Belanda, membuat pria yang akrab dikenal dengan Cak Durasim ini meringkuk di penjara.

Sekilas, kita tidak akan menyangka kalau gedung yang dilihat dari luar seperti ‘rumah tak berpenghuni’ ini, ternyata sering digunakan untuk berbagai pertunjukkan karya seni. Khususnya pertunjukkan yang menggunakan setting indoor, seperti seni teater, seni tari hingga seni musik. Di dalamnya juga dilengkapi dengan fasilitas AC, sehingga menambah kenyamanan penonton saat menikmati suguhan pertunjukan seni yang berlangsung.

Gedung yang dulunya bekas gedhongan (kandang kuda) ini, mampu menampung 500 sampai 700 penonton. Selain panggung, adapun beberapa ruangan di dalamnya, antara lain: ruang rias, ruang transit tamu, dan ruang utama untuk penonton.

Sayangnya, meskipun berdiri diantara bangunan bernilai sejarah, Gedung yang berukuran 1200 m2 ini tidak termasuk dalam bangunan cagar budaya. Dikarenakan, dinilai tidak memiliki nilai sejarah.

Kilasan Pendopo Jayengrono
Tak hanya gedung Cak Durasimnya, Taman Budaya juga terkenal akan pendoponya. Berbeda dengan gedung Cak Durasim, pendopo Jayengrono sering digunakan untuk acara-acara yang menyerap penonton lebih banyak, dengan konsep outdoornya.
Disangga 36 pilar dengan empat pilar utama di tengahnya, membuat pendopo Jayengrono tampak gagah. Meskipun berdiri sejak 1915, itu tak menyurutkan eksistensinya untuk terus menjadi wadah bagi para seniman untuk mementaskan karya-karya mereka. Banyak pagelaran-pagelaran seni yang dihelat di pendopo yang dulunya dijadikan kadipaten kanoman ini. Mulai wayang kulit hingga teater.

Ketika masih menjadi kadipaten kanoman, pendopo yang merupakan bagian dari gedung utama ini, sering dijadikan tempat bertukar pikiran, diskusi hingga menyelesaikan segala permasalahan yang ada di kota Pahlawan. Kini, tetengger Taman Budaya ini, lebih sering digunakan untuk latihan tari.

Taman Budaya di Tahun 2009

Mulai 1 Januari 2009, komplek yang dulunya dikenal dengan Kantor Graha Kabupaten, sekarang berganti nama menjadi UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pendidikan dan Pengembangan Kesenian Taman Budaya Jawa Timur.

Tak banyak perubahan dan fungsi dalam bangunan itu. Sesuai dengan nama yang disandangnya, di setiap sudut komplek bangunan ini masih digunakan sebagai tempat pertunjukkan kesenian. Misalnya saja sawunggaling, yang sering dijadikan tempat digelarnya pameran lukis. “Selain dijadikan tempat dihelatnya berbagai kesenian, Taman Budaya juga sering disulap sebagai tempat workshop lokakarya” papar Karsono, kepala UPT Jawa Timur.

Di areal bekas kadipaten kanoman Surabaya ini, juga terdapat kantor redaksi ‘Bende’ yang merupakan penerbitan majalah seputar Taman Budaya. Berjalan lurus dari kantor redaksi, kita akan menjumpai perpustakaan ‘Taman Bacaan’ dengan 1500 buku berlatar belakang kesenian di dalamnya.

Selain itu, untuk menguatkan kesan sebagai tempat berkumpulnya para seniman dan karya-karyanya, dibangun pula wisma seni. Tempat singgah yang diperuntukkan bagi para seniman atau tamu penting.

Sebagai upaya pengembangkan dan pelestarian warisan budaya Jawa Timur, kompleks bersejarah ini sering digunakan sebagai tempat untuk memperkenalkan kebudayaan kepada para tamu internasional. Pendopo Jayengrono lah yang biasanya dipilih sebagai tempat pertunjukan saat tamu agung itu datang berkunjung. (N: Tri Amalya S. /Lyna Charisma. F: Tri Amalya S.)