Aktivis Cerminan Gus Dur

actasurya.com – Aan Anshori, lahir 8 Juni 1976 di Kauman, Mojoagung, Jombang. Ia Menamatkan pendidikan SMP dan SMA di Pesantren Tambak Beras, Jombang dan Pesantren Kedungmaling, Mojokerto. Setelah mendapatkan gelar D3 dibidang Akademi Manajemen Informatika & Komputer (AMIK) Jombang, lelaki ini juga menamatkan S1 Ilmu Hukum di Universitas Darul Ulum Jombang.

Aan adalah seorang aktivis GUSDURian, sebelum menjadi aktivis ditahun 2000 ia sempat bekerja di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Concern dalam penelitian dan advokasi isu Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi, good governance, misalnya di Islamic Center for Democracy and Human Rights Empowerment (ICDHRE), Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam-Nu)  Kabupaten Jombang, LINK, dan Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD).

Bergabung menjadi aktivis GUSDURian sekitar tahun 2011, setelah satu tahun lebih wafatnya KH. Abdurrahman Wahid yang biasa dikenal Gus Dur. Saat presiden ke-empat meninggal ada banyak gagasan untuk merumuskan strategi apa yang paling tepat, untuk meneruskan perjuangannya.

“Dengan dipimpinnya oleh Alissa Wahid putri sulung dari Gus Dur, kemudian muncul GUSDURian ini dan berdiri secara perlahan. Kebetulan saya membantu untuk Wilayah Jawa Timur,” kata pria berkacamata ini.

GUSDURian adalah sebutan bagi siapa saja yang meyakini dan melanjutkan ide serta perjuangannya, satu sosok ini begitu menginspirasi bagi para pemeluk agama Islam. Terutama terkait dengan kiprahnya, dalam melakukan pembelaan pada kelompok-kelompok yang tertindas dari aspek ekonomi ataupun sosial.

“Akan tetapi lebih mengejutkan adalah mereka yang tertindas karena, identitas minornya. Seperti minor dalam identitas agama, gender seksualitas, maupun karena ideologi politik pada tahun 1965-1966,” ujarnya

Bagi Aan, Gus Dur merupakan sosok yang tidak hanya komplit. Ia juga telah memberikan satu model, bagaimana seseorang menjadi manusia serta dapat mengayomi semua pihak. Representasi sebagaimana sesungguhnya muslim itu harus berada di dalam satu kemusliman itu sendiri. “Dimana Gus Dur tidak minder dengan ke islamanya, akan tetapi keimanan yang kokoh dan juga digunakan untuk mengayomi kepada semua golongan tidak hanya kepada kelompok mayoritas saja,” terangnya.

“Saya merasa ada chemistry dan bersifat personal kenapa saya memilih Gus Dur. Jadi  kalau orang itu dalam sholat, misalkan butuh seorang imam dan posisi saya sebagai makmum. Maka imam yang menurut saya pas untuk menjadi pemimpin atau menjadi acuan dalam bersikap secara islam itu adalah KH. Abdurrahman Wahid,” jelas pria berjenggot.

Banyak sekali pengalaman Aan yang menarik, ia pernah dibully ratusan lebih orang di sosial media. Hanya karena tampil di salah satu televisi nasional, mengangkat isu soal hukum pidana dan kelompok lesbian, gay, bisexual, transgender and intersex (LGBTI). Baginya setiap manusia itu diciptakan dalam derajat yang sama, serta layak untuk mendapatkan penghormatan dan tidak peduli apapun latar belakang identitasnya.

“Seorang muslim tiap pemula agama tidak bisa didiskriminasi atas nama agama itu sendiri, juga didiskriminasi atas nama orientasi seksual maupun dilintas gender. Bagi saya begitu berat untuk meyakinkan banyak orang di Indonesia, terutama islam untuk bisa menjadi muslim yang baik itu adalah ia yang mencitrakan dan memancarkan wajah tuhan itu sendiri. Kalau diringkas cuma dua, Allah SWT itu pasti Rahman dan Rahim,” Tutupnya. (N/F : Avit Dewi Puspitasari)