Aksi Solidaritas AWS Wani: Lahirkan Kepekaan dan Bentuk Perlawanan Mahasiswa pada Tindak Terorisme 

actasurya.com – Berawal dari kejadian ledakan bom pada Minggu (13/5) yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, Polrestabes dan Rusunawa Sidoarjo, yang memakan korban jiwa sebanyak 33 orang. Kemudian muncul serentetan penangkapan terduga teroris di beberapa tempat, yang dari kejadian ini menjadikan masyarakat resah, takut serta trauma pada peristiwa tersebut.

Maka berbagai elemen masyarakat yang berasal dari berbagai komunitas memunculkan bentuk keberanian dalam bentuk gerakan, agar masyarakat berani melawan, seperti #prayforsurabaya, #surabayawani, #surabayawanilawanteroris.

Hal itu pula yang dilakukan oleh mahasiswa Stikosa AWS kemarin, Kamis (17/3). Bahwa mereka beraksi sebagai bentuk perlawanan terhadap tindak terorisme dan rasa empati atas tragedi peledakan bom yang terjadi.

Aksi Solidaritas AWS Wani merupakan gerakan yang bermula dari obrolan santai para mahasiswa tentang keprihatinan mereka terhadap kondisi Kota Surabaya saat ini. Seperti yang disampaikan oleh salah satu mahasiswa semester enam yang akrab disapa Bebong.

“Ingin menimbulkan kembali rasa kepekaan mahasiswa terhadap kejadian yang saat ini,” jelasnya.

Aksi ini diawali dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan penampilan teatrikal yang menghadirkan simbol empat agama yang menyampaikan pesan damai. Tak hanya itu, penampilan musik dari Mata Rante yang membawakan lagu berjudul Luka Kita dan Gugur Bunga, serta orasi kegeraman mereka terhadap perilaku teroris.

“Teroris Jancuuk!!” teriak mereka.

Selain Mata Rante, ada Halaman Pengenala yang membawakan sebuah lagu Semoga Ku Manusia. Bersamaan dengan penampilan tersebut yang mendekati waktu berbuka puasa, beberapa mahasiswa Stikosa-AWS turun kejalanan untuk membagikan takjil dan bunga mawar kepada orang-orang yang lewat, sembari menyuarakan “Surabaya Wani”.

Aksi Solidaritas AWS Wani turut dimeriahkan oleh Mata Rante, Kamis (17/05) di lapangan Stikosa AWS.

Aksi ini diakhiri dengan doa bersama dan berbuka bersama serta tanda tangan bersama sebagai bentuk petisi bahwa kita bersatu berani melawan ketakutan terhadap teroriaS.

Aksi ini berhasil memunculkan respon baik bagi mahasiswa yang hadir, seperti yang disampaikan Gaby mahasiswa semester dua yang juga merupakan partisipan dalam aksi ini.

“Aku merasa bangga karena dalam acara ini, AWS bisa menunujukkan rasa keperdulinya, terhadap kejadian ini,” ujarnya.

Hal serupa diutarakan oleh Ria dari komunitas Nerac Academia, salah satu komunitas yang hadir dalam aksi. “Acaranya sederhana tapi sangat bermakna  dan dari kepedulian seperti inilah  juga dapat menjadi dukungan bagi korban, pihak kepolisian bahkan masyarakat Indonesia untuk terus bersatu,” jelasnya.

Harapan dari kegiatan ini adalah ingin membuat mahasiswa sadar dan peduli tentang keadaan lingkungan sekitar, seperti yang diharapkan Saprol, salah satu mahasiswa penggagas aksi. “Harapanya semoga dari acara ini, bisa menimbulkan semangat dari diri sendiri dan bisa lebih kritis dalam menyikapi isu yang ada disekitar,” tutupnya. (N/F: Jelita,Odif)